Senin, 05 November 2012

kaya di usia muda dengan berbisnis

Dalam buku terbarunya, Wirausaha Muda Mandiri, Rheinald Khasali merangkum pengalaman beberapa wirausaha muda sukses. Termasuk tips sukses mereka. Silakan simak, siapa tahu Anda bisa belajar darinya.

1. Nikmati indahnya berpikir kreatif. Menjadi kreatif berarti selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihan. Seperti kata John C Maxwell, “Bakat saja tidak cukup. IQ juga tidak. Semua baru menjadi potensi, dan setiap potensi perlu menemukan pintunya.” Caranya? Berani mencoba.

2. Kekuatan kesederhanaan. Tips ini berasal dari pengalaman sukses Firmansyah Budi Prasetyo, pemilik Tella Krezz. Ia berhasil menaikkan gengsi singkong menjadi sama dengan french fries dan snack impor lainnya. Kunci sukses para pemikir sederhana, mereka mengerjakan hal-hal yang sudah dikenali dan akrabi sejak kecil.

3. Carilah struktur biaya yang rendah. Menurut Rheinald Khasali, berwirausaha bukan bergaya hidup. Kalau bergaya hidup Anda menghabiskan uang. Dalam wirausaha Anda mengurangi pengeluaran dan mendatangkan penghasilan. Dengan pola pikir ini, maka bisnis yang dijalankan akan membawa untung.

4. Gunakan teknologi, jangkau sebanyak sebanyak mungkin orang. Saat ini bila Anda gagap teknologi maka akan rugi. Pasalnya, dengan teknologi, pemasaran produk akan menyebar pada banyak orang tanpa mengeluarkan biaya. Dengan Twitter, Facebook, situs, atau blog, promosi akan menyebar dalam hitungan menit.

5. Tiupkan ruh pada brand Anda. Artinya memberi kekuatan dan nyawa pada brand agar bisa bergerak sendiri, hidup dan berdaya. Brand Anda adalah karakter Anda, jadi jangan berkompromi pada hal-hal yang bisa merusak reputasi dan karakter Anda, karena akan berpengaruh pada brand. Buatkan story telling tentang brand Anda, biasanya orang suka pada kisah di balik sebuah produk.

6. Entrepreneurship DNA. Jangan percaya pada mitos, bahwa orang Padang jago berdagang, atau orang China pandai berbisnis. Semua orang bisa berbisnis dan memiliki entrepreneurship DNA. Caranya dengan meluaskan pengetahuan, banyak bergaul dengan pengusaha sukses yang beretika, dan bekerja keras.

7. Bersahabat dengan ketidakpastian. Dalam bisnis sering terjadi ketidakpastian, bahkan bisnis dianggap kegiatan berselancar di antara gelombang ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi bila kita tidak mengenali sesuatu, jadi cara mengatasinya tak lain bersahabat dengan ketidakpastian itu. Cari data dan informasi, sampai Anda mengenali ketidakpastian itu serta risikonya.

METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A.    Pengertian Metode Pendidikan Islam
Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Menurut DR.  Ahmad Husain al-liqaniy, metode adalah : “Langkah–langkah yang diambil guru guna membantu para murid merealisaikan tujuan tertentu”. Dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Thariqoh yang berarti langkah – langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan Pendidikan maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian. Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode merupakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.[1]
B.     Dasar–dasar Umum metode Pendidikan Islam
Metode Pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut permaslahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri sehingga dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan islam, sebab metode pendidikan itu hanyalah merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar–dasar metode pendidikan tersebbut. Dalam hal ini tidak bisa terlepas dari dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
1.       Dasar Agama
Al-Qur’an dan hadits tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan metode pendidikan Islam. Dalam kedudukannya sebagai dasar ajaranisalam, maka dengan sendirinya, metode pendidikan islam harus merujuk pada kedua sumber ajaran tersebut, sehingga segala penggunaan dan pelaksanaan metode pendidikan islam tidak menyimpang dari tujuan pendidikan itu sendiri. Misalnya dalam mata pelajaran olahraga, maka seorang pendidik harus mampu menggunakan metode yang didalamnya terkandung ajaran Al–Qur’an dan Al–Hadits, seperti masalah pakaian yang islami dan lain–lain praktek olahraga
2.      Dasar Biologis
Dalam memberikan pendididkan dalam pendidikan islam, seseorang pendidik harus memperhatikan perkemangan biologis anak didik. Perkembangan kondisi jasmani (bologis) seseorang juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya. Sesseorang yang menderita cacat jasmani akan mempunyai melemahan dan kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain normal, misalnya seseorang yang mempunyai penyakit pada matanya (rabun jauh), maka ia cenderung duduk dibangku barisan depan (walaupun tidak selamanya yang duduk didepan itu menderita penyakit pada matanya), karena dia duduk didepan, maka dia tidak dapat bermain-main pada waktu guru memberikan keterangan materi pelajaran. Sehingga ia memperhatikan seluruh uraian guru. Karena hal ini berlangsung terus-menerus, maka dia akan mempunyai pengetahuan lebih dibanding dengan temannya yang lain, apalagi ia termotivasi dengan kelainan mata tersebut.
Berdasarkan hal, ini maka dapat dikatakan bahwa perkembangan jasmani dan kondisi jasmani itu sendiri, memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Sehingga dalam menggunakan metode pendidikan seseorang pendidik harus bijaksana dan memperhatikan kondisi biologis peserta didik.
3.      Dasar psikologis
Metode pendidikan baru dapat diterapkan secara efektif, bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologi peserta didik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam menggunakan metode pendidikan seorang pendidik disamping memperhatikan kondisi jasmani peserta didik juga perlu memperhatikan kondisi jiwa atau rohaninya, sebab manusia pada hakikatnya terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, yang kedua-duanya merupakan satu kesauan yang tak dapat dipisah-pisahkan.
Kondisi psikologis yang menjadi dasar dalam metode pendidikan Islam berupa sejumlah kekuatan psikologi peserta didik termasuk motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat dan kecakapan akal (intelektualnya) sehingga seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang ada pada peserta didik.
4.      Dasar Sosiologis
 Interaksi yang terjadi antara sesama siswa dan interaksi antara guru dan siswa, merupakan interaksi timbal balik yang kedua belah pihak akan saling memberikan dampak positif pada keduanya. Dalam kenyataan secara sosiologis seorang individu dapat memberikan pengaruh pada lingkungan sosial masyarakatnya dan begitu pula sebaiknya. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dalam berinteraksi dengan siswanya hendaklah memberikan tauladan dalam proses sosialisasi dengan pihak lainnya, seperti dikala berhubungan dengan siswa, sesama guru, karyawan, dan kepala sekolah.
Dari beberapa uraian di atas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan metode pendidikan Islam harus dijalankan atas dasar agama, biologis, psikologis, dan sosiologis. Dengan keempat dasar tersebut metode pendidikan akan mampu melaksanakan perannya sebagai jembatan menuju tercapainya tujuan pendidikan Islam.[2]
C.    Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan Islam harus diguankan dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode penddikan tersebut sebab dengan prinsip-prinsip ini diharapkan metode pendidikan Islam dapat berfungsi lebih efektif dan efisien dan tidak menyimpang dari tujuan semula dari pendidikan Islam. oleh karena itu, seorang pendidik perlumemperhatikan prinsip-prinsip metode pendidikan, sehingga para pendidik mampu menerapkan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut : 
1. Prinsip Mempermudah
Metode pendidikan yang digunakan oleh pendidik pada dasarnya adalah menggunakan suatu cara yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menghayati dan mengamalkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sekaligus mengidentifikasi dirinya dengan nilai-nilai yang terdapat dalm ilmu pengetahuan dan ketreampilan tersebut sehingga metode yang digunakan haruslah mampu membuat peserta didik untuk merasa mudah menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan itu. Inilah barangkali yang perlu dipahami oleh seorang pendidik. Pendidik tidak harus menggunakan metode yang muluk-muluk sementara materi yang disampaikan tidak mampu diserap oleh peserta didik. Bagaimana peserta didik akan mengaktualisasikan nilai-nilai materi tersebut, sementara materinya itu sendiri belum dapat dipahami dan dikuasai oleh peserta didik.[3] 
      2. Berkesinambungan
Berkesinambungan dijadikan sebagai prinsip metode pendidikan Islam, karena dengan asumsi bahwa pendidikan Islam adalah sebuah proses yang akan berlangsung terus menerus, sehingga dalam menggunakan metode pendidikan seorang pendidik perlu memperhatikan kesinambungan pelaksanaan pemberikan materi. Jangan hanya karena mengejar target kurikulum seorang pendidik menggunakan metode yang efektif yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh yang negatif pada peserta didik karena peserta didik merasa dibohongi oleh pedidik.
    3. Fleksibel dan Dinamis
Metode pendidikan Islam harus digunakan dengan prinsip fleksibel dan dinamis, sebab dengan kelenturan dan kedinamisan metode tersebut, pemakaian metode tidak hanya monoton dan zaklik dengan satu macam metode saja. Seorang pendidik mampu memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ditawarkan oleh para pakar yang dianggapnya cocok dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan, serta suasana pada waktu itu. Dan prinsip kedinamisan ini berkaitan erat dengan prinsip berkesinambungan, karena dalam kesinambungan tersebut metode pendidikan Islam akan selalu dinamis bila disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
D.    Metode Pendidikan Menurut Pakar Pendidikan Islam
Para ahli didik Islam telah merumuskan berbagai metode pendidikan Islam telah merumuskan berbagai metode pendidikan Islam diantaranya :
1.    Al-Ghazali
Seyogyanya agama diberikan kepada anak sejak usia anak, sewaktu ia menerimanya dengan hafalan di luar kepala. Ketika ia menginjak dewasa sedikit demi sedikit makna agama akan tersingkap baginya. Jadi, prosesnya dimulai dengan hafalan diteruskan dengan pemahaman. Demikianlah keimanan tumbuh pada anak tanpa dalil terlebih dahulu.
2.    Abdullah Nashih Ulwan
Dalam pendidikan di rumah tangga menguraikan 4 macam metode :
a.       Menyuruh anak-anak semenjak awal membaca lailaha illallah
b.      Memperkenalkan sejak awal tentang pemikiran hukum halal dan haram
c.       Menyuruh anak beribadah semenjak umur 7 tahun
d.      Mendidik anak cinta kepada Rasul dan ahlul baitnya serta cinta dan gemar membaca al-Qur’an
3.    Abdul Rahman Al-Nahlawi
Al Nahlawi mengemukakannya pula metode Qur’an dan hadits yang dapat menyentuh perasaan yaitu :
a.       Metode hiwar (percakapan)
b.      Mendidik dengan kisah-kisah qur’ani dan nabawi
c.       Mendidik dengan antsal qur’ani dan nabawi
d.      Mendidik dengan memberi teladan (ushwatun hasanah)
e.       Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
f.       Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mauziah (peringatan)
g.      Mendidik dengan membuat senang (targhib) dan memberi takut (tarhib)
4.    Abdurrahman Saleh Abdllah
Mengemukakan beberapa metode pendidikan dan peranannya yaitu :
a.       Metode cerita dan ceramah
Tujuannya adalah untuk memberi dorongan psikologis kepada peserta didik.  
b.      Metode diskusi, tanya jawab atau dialog
Tujuannya metode ini akan membawa kepada penarikan deduksi.  Dalam pendidikan, deduksi merupakan suatu metode pemikiran logis yang sangat bermanfaat. Formulasi dari suatu prinsip umum diluar fakta ternyata lebih berguna sebab peserta didik akan dapat membandingkan dan menyusun konsep-konsep.
c.       Metode perumpamaan
Tujuannya dapat memperjelas tentang konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit kepada peserta didik.
d.      Metode hukuman
Tujuannya agar peserta didik dapat memahaminya sebagai tanda penerimaan kepribadiannya yang membuat merasa aman. Sementara hukuman yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak disukainya akan dapat menguatkan rasa aman tersebut.
Dari kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa metode mengajar yang dikemukakan oleh para ahli di atas dilaksanakan sejak dini, bertahap, berkesinambungan dan tuntas, serta dengan cara bijaksana, penuh kasih saying, teladan yang baik, yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat membangkitkan minat dan dengan cara yang praktis.[4]
E.     Cara Mengaplikasikan Metode Pendidikan Islam dalam Proses Pendidikan
Dalam mengaplikasikan beberapa metode pendidikan Islam dalam suatu proses pendidikan Hadari Nawari menawarkan beberapa cara, yaitu :
1.      Nelalui Keteladanan
Rasulullah saw adalah panutan terbaik bagi umatnya, pada diri beliau senantiasa ditemukan tauladan yang baik serta kepribadian mulia. Sifat-sifat yang ada pada beliau adalah shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Pribadi seperti yang diteladankan Rasulullah saw itulah seyogyanya dimiliki dan ditampilkan oleh setiap pendidik karena Rasulullah saw adalah manusia pilihan yang dimuliakan Allah SWt.
Dalam proses pendidikan brearti setiap pendidik harus berusaha menjadi teladan peserta didiknya. Teladan dalam semua kebaikan dan bukan sebaliknya. Dengan keteladanan itu dimaksudkan peserta didik senantiasa akan mencontohkan segala sesuatu yang baik-baik dalam perkataan maupun perbuatan.
2.      Melalui kebiasaan
Fakor ini perlu diterapkan pada peserta didik sejak dini. Contoh sederhana misalnya membiasakan mengucapkan salam pada waktu masuk dan keluar rumah, membaca basmalah setiap memulai suatu pekerjaan dan mengucapkan hamdalah setelah menyelesaikan pekerjaan.
Faktor pembiasaan ini hendaklah dilakukan secara kontinu dalam arti dilatih dengan tidak jemu-jemunya dan faktor ini pun harus dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan buruk.
3.      Melalui cerita dan nasihat
Misalnya tentang cara menasehati anak yang terdapat di surat al-Luqman ayat 13 s.d 19, surat Al-Kahfi ayat 70-82 tentang pertemuan antara nabi Musa dan nabi Khidir yang menghasilkan tentang adab seorang murid, adab seorang guru, tentang materi pelajaran dan masih banyak lagi.
Dengan melalui metode ini yang mengandung nasihat, pelajaran dan petunjuk yang sungguh sangat efektif untuk menciptakan suasana interaksi pendidikan. Cerita-cerita dan nasehat itu akan sangat besar pengaturnya pada perkembangan psikologis peserta didik bila disampaikan secara baik-baik dan sesuai situasi dan kondisi.
I.          PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”.
2.       Dasar-dasar umum metode pendidikan Islam
a.       Dasar agama
b.      Dasar biologis
c.       Dasar psikologis
d.      Dasar sosiologis
3.      Prinsip-prinsip metode pendidikan Islam
a.       Prinsip mempermudah
b.      Prinsip berkesinambungan
c.       Prinsip fleksibel dan dinamis
4.      Metode pendidikan menurut para pakar pendidikan Islam
a.       Al- Ghazali
b.      Abdullah Nashih Ulwan
c.       Abdurrahman Al Nahlawi
d.      Abdurrohman Saleh Abdullah
5.      Cara mengaplikasikan metode pendidikan Islam dalam proses pendidikan
a.       Melalui keteladanan
b.      Melalui kebiasaan
c.       Melalui cerita dan nasehat
  Daftar Pustaka
Arifin, H.M. 1996. Ilmu Pendidikan  Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ramayulis, H. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.


[1] Prof. DR. H. Rama Yulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta, Kalam Mulia. 2002), h. 149
[2] Ibid., h. 158-162.
[3] ibid., h. 162. Lihat juga Prof. H. M. Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 199-201.
[4] Ibid., h. 210-218.