Jumat, 22 April 2011

ETIKA GURU DAN MURID DALAM PENDIDIKAN ISLAM


A.     Etika Guru Dengan Murid
Mengajar sebenarnya bermaksud menyampaikan ilmu pengetahuan, maklumat, membimbing, meningkatkan kemahiran, meningkatkan keyakinan, menanam nilai-nilai murni dan luhur kepada para pelajar yang belum mengetahui. Ia bukan sekadar menyampaikan maklumat atau bahan pengajaran dalam sebuah kelas. Sangat disayangkan apabila proses mengajar dianggap sekadar menyampaikan ilmu atau maklumat serta  menghabiskan meteri pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Proses mengajar mempunyai konsep yang sangat luas, ia bertujuan untuk menjadikan seseorang individu itu lebih bertanggung jawab dan mampu memaksimalkan fikirannya untuk terus bahagia dan berjaya mengatasi cobaan yang akan dihadapai. Ini hanya akan dicapai sekiranya proses pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan mencapai tahap pengajaran bermakna.[1]
Orang yang mengajar dikenali sebagai guru. Perkataan guru adalah hasil gabungan dua suku kata yaitu `Gu’ dan `Ru’. Dalam bahasa jawa, Gu diambil dari perkataan gugu bermakna boleh dipercayai manakala Ru diambil dari perkataan tiru yang bermaksud boleh diteladani atau dicontohi. Oleh karena itu, (guru) bermaksud seorang yang boleh ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya, amalannya dan boleh dipercayai keamanahan yang dipertanggungjawabkan kepadanya untuk dilakukan dengan jujur.[2]
Peranan guru ialah sebagai pembimbing, pendidik, pembaharu, contoh dan teladan, pencari dan penyelidik, penasihat dan kaunselor, pencipta dan pereka, pencerita dan pelakon, penggalak dan perangsang, pengilham cita-cita, pengurus dan perancang, penilai, pemerhati, rakan dan kawan pelajar, penguat kuasa, pemberi petunjuk orang yang berwibawa dan sebagainya. Jelas menunjukkan bahwa menjadi seorang guru merupakan satu tugas dan peranan yang agak berat. Sebenarnya, jika anda anggap tugas itu berat, maka beratlah ia. Jika anda terima ia sebagai satu cobaan dengan cara yang positif, maka mudahlah ia.
Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu.[3] Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.[4]
Jabatan guru dapat dikatakan sebuah profesi karena menjadi seorang guru dituntut suatu keahlian tertentu (mengajar, mengelola kelas, merancang pengajaran) dan dari pekerjaan ini seseorang dapat memiliki nafkah bagi kehidupan selanjutnya. Hal ini berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun dalam perjalanan selanjutnya, mengapa profesi guru menjadi berbeda dari pekerjaan lain. Menurut artikel “The Limit of Teaching Proffesion,” profesi guru termasuk ke dalam profesi khusus selain dokter, penasihat hukum, pastur. Kekhususannya adalah “bahwa hakekatnya terjadi dalam suatu bentuk pelayanan manusia atau masyarakat.”[5] Orang yang menjalankan profesi ini hendaknya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya, ia dan keluarganya harus hidup akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaannya untuk melayani sesama.
Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan profesinya dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi. Mereka (guru) dalam keadaan darurat dianggap wajib juga membantu tanpa imbalan yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah pengabdian kemanusiaan.

a.    Dua Prinsip Etika Profesi Luhur 
Tuntutan dasar etika profesi luhur yang pertama ialah agar profesi itu dijalankan tanpa pamrih. Dr. B. Kieser mengatakan:
Seluruh ilmu dan usahanya hanya demi kebaikan pasien/klien. Menurut keyakinan orang dan menurut aturan-aturan kelompok (profesi luhur), para profesional wajib membaktikan keahlian mereka semata-mata kepada kepentingan yang mereka layani, tanpa menghitung untung ruginya sendiri. Sebaliknya, dalam semua etika profesi, cacat jiwa pokok dari seorang profe-sional ialah bahwa ia mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan klien.[6]

Yang kedua adalah bahwa para pelaksana profesi luhur ini harus memiliki pegangan atau pedoman yang ditaati dan diperlukan oleh para anggota profesi, agar kepercayaan para klien tidak disalah-gunakan. Selanjutnya hal ini kita kenal sebagai kode etik. Mengingat fungsi dari kode etik itu, maka profesi luhur menuntut seseorang untuk menjalankan tugasnya dalam keadaan apapun tetap menjunjung tinggi tuntutan profesinya.
guru juga merupakan sebuah profesi. Namun demikian profesi ini tidak sama seperti profesi-profesi pada umumnya. Bahkan boleh dikatakan bahwa profesi guru adalah profesi khusus luhur. Mereka yang memilih profesi ini wajib menginsafi dan menyadari bahwa daya dorong dalam bekerja adalah keinginan untuk mengabdi kepada sesama serta menjalankan dan menjunjung tinggi kode etik yang telah diikrarkannya, bukan semata-mata segi materinya belaka.

b. Tuntutan Seorang Guru
Di atas telah dijelaskan tentang mengapa profesi guru sebagai profesi khusus dan luhur. Berikut akan diuraikan tentang dua tuntutan yang harus dipilih dan dilaksanakan guru dalam upaya mendewasakan anak didik. Tuntutan itu adalah:
1.Mengembangkan visi anak didik tentang apa yang baik dan mengembangkan self esteem anak didik.
2. Mengembangkan potensi umum sehingga dapat bertingkah laku secara kritis terhadap pilihan-pilihan. Secara konkrit anak didik mampu mengambil keputusan untuk menentukan mana yang baik atau tidak baik.

Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya menjadikan pokok satu sebagai tuntutan yang dipenuhi, maka yang terjadi pada anak didik adalah suatu pengembangan konsep manusia terhadap apa yang baik dan bersifat eks-klusif. Maksudnya adalah bahwa konsep manusia terhadap apa yang baik hanya dikembangkan dari sudut pandang yang sudah ada pada diri siswa sehingga tak terakomodir konsep baik secara universal. Dalam hal ini, anak didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik tidak hanya bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti konsep ini dari orang lain atau lingkungan sehingga menutup kemungkinan akan timbulnya visi bersama (kelompok) akan hal yang baik.
Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih menekankan akan kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa yang baik tidak hanya berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain berikut akibatnya. Di lain pihak guru mempersiapkan anak didik untuk melaksanakan kebebasannya dalam mengembangkan visi apa yang baik secara konkrit dengan penuh rasa tanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan terbentuklah dalam diri anak sense of justice dan sense of good. Komitmen guru dalam mengajar guna pencapaian tujuan mengajar yang kedua lebih lanjut diuraikan bahwa guru harus memiliki loyalitas terhadap apa yang ditentukan oleh lembaga (sekolah). Sekolah selanjutnya akan mengatur guru, KBM dan siswa supaya mengalami proses belajar-mengajar yang berlangsung dengan baik dan supaya tidak terjadi penyalahgunaan jabatan. Namun demikian, sekolah juga perlu memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan, memvariasikan, kreativitas dalam merencanakan, membuat dan mengevaluasi sesuatu proses yang baik (guru mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu bagi seorang yang profesional dalam pekerjaannya.
Masyarakat umum juga dapat membantu guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap `proses’ anak didik. Ma-syarakat dapat mengajukan saran, kritik bagi lembaga (sekolah). Lembaga (sekolah) boleh saja mempertimbangkan atau menggunakan masukan dari masyarakat untuk mengembangkan pendidikan tetapi lembaga (sekolah) atau guru tidak boleh bertindak sesuai dengan kehendak masyarakat karena hal ini menyebabkan hilangnya profesionalitas guru dan otonomi lembaga (sekolah) atau guru.
Dengan demikian, pemahaman akan visi pekerjaan sesuai dengan etika moral profesi perlu dipahami agar tuntutan yang diberikan kepada guru bukan dianggap sebagai beban melainkan visi yang akan dicapai guru melalui proses belajar mengajar. Guru perlu diberikan otonomi untuk mengembangkan dan mencapai tuntutan tersebut.

c. Etika Keguruan
Sebenarnya kode etika pada suatu kerja adalah sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional, ilmiah dan aqidah yang harus dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam kerjanya. Lebih ketara lagi ciri-ciri ini jelas pada kerja keguruan. Dari segi pandangan Islam, maka agar seorang muslim itu berhasil menjalankan tugas yang dipikulkan kepadanya oleh Allah SWT pertama sekali dalam masyarakat Islam dan seterusnya di dalam masyarakat antarabangsa maka haruslah guru itu memiliki sifat-sifat yang berikut:
1.   Bahwa tujuan, tingkah laku dan pemikirannya mendapat bimbingan Tuhan.
2.   Bahwa ia mempunyai persiapan ilmiah, vokasional dan budaya menerusi ilmu-ilmu pengkhususannya seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman dan kebudayaan dunia dalam bidang pengkhususannya.
3.   Bahwa ia ikhlas dalam kerja-kerja kependidikan dan risalah Islamnya dengan tujuan mencari keredhaan Allah SWT dan mencari kebenaran serta melaksanakannya.
4.   Memiliki kebolehan untuk mendekatkan maklumat-maklumat kepada pemikiran murid-murid dan ia bersabar untuk menghadapi masalah yang timbul.
5.   Bahwa ia benar dalam hal yang didakwahkannya dan tanda kebenaran itu ialah tingkah lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa murid-muridnya dan anggota-anggota masyarakat lainnya. Seperti makna sebuah hadith Nabi SAW, “Iman itu bukanlah berharap dan berhias tetapi meyakinkan dengan hati dan membuktikan dengan amal”.
6.   Bahwa ia fleksibel dalam mempelbagaikan kaedah-kaedah pengajaran dengan menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini memerlukan bahwa guru dipersiapkan dari segi professional dan psikologikal yang baik.
7.   Bahwa ia memiliki sahsiah yang kuat dan sanggup membimbing  murid-murid ke arah yang dikehendaki.
8.   Bahwa ia sadar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global  yang dapat mempengaruhi generasi dan segi aqidah dan pemikiran mereka.
9.   Bahwa ia bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan yang benar.[7]

Inilah sifat-sifat terpenting yang patut dipunyai oleh seorang guru Muslim di atas mana proses penyediaan guru-guru itu harus dibina. Seorang guru Muslim memiliki peranan bukan saja di dalam sekolah, tetapi juga diluarnya. Oleh yang demikian menyiapkannya juga harus untuk sekolah dan untuk luar sekolah. Maka haruslah penyiapan ini juga dipikul bersama oleh institusi-institusi penyiapan guru seperti fakulti-fakulti pendidikan dan maktab-maktab perguruan bersama-sama dengan masyarakat Islam sendiri, sehingga guru-guru yang dihasilkannya adalah guru yang shaleh, membawa perbaikan (muslih), memberi dan mendapat petunjuk untuk menyiarkan risalah pendidikan Islam.
Pendidikan dalam Islam bertujuan untuk membentuk generasi-generasi islam yang memahami dan menyadari risalahnya dalam kehidupan dan melaksanakan risalah ini dengan sungguh-sungguh dan amanah dan juga menyadari bahawa mereka mempunyai kewajiban kepada Allah SWT dan mereka harus melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Begitu juga mereka sadar bahwa mereka mempunyai tanggung jawab, maka mereka menghadapinya dengan sabar, hati-hati dan penuh prihatin. Begitu juga mereka sadar bahwa mereka mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakatnya, maka mereka melaksanakannya dengan penuh tanggung-jawab, amanah dan professionalisme. Dengan demikian umat Islam akan mencapai cita-citanya dalam kehidupan dengan penuh kemuliaan, kekuatan, ketenteraman dan kebanggaan. Sebab Allah SWT telah mewajibkan kepada diri-Nya sendiri dalam surah al-Nahl ayat ke 97 sebagai berikut:

من عمل صالحا من ذ كر اوانثى وهو مؤمن فلنحيينه حيوة طيبة ولنجزينهم اجرهم باحسن ماكانوا يعملون (النحل: ٩٧)

Artinya: Barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun   perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baikdari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97).
                                                        
B.     Etika Murid Dengan Guru
Setiap murid tidak boleh tergesa-gesa dalam segala hal. Kaidah hidup yang mengingatkan: “Tidak pernah menyesal orang yang istikharah, menyerahkan pilihan akhiratnya kepada Allah, dan tidak pernah rugi orang yang musyawarah”[8], harus senantiasa menjadi acuan dalam mengambil setiap keputusan penting. Karenanya, seorang murid tidak boleh tergesa-gesa mentadbir dan mengambil kesimpulan mengenai masalah-masalah unik yang bersifat spiritual yang menimpanya. Ia harus menyampaikannya kepada guru untuk mendapat pertimbangan. Jika belum terjawab, ia harus diam dan menunggu, karena ia yakin bahwa diamnya guru dalam masalah unik spiritual ini memiliki makna hikmah yang bernilai luhur. Boleh jadi, rentang waktu dan peluang kesempatan lebih memiliki makna kearifan ketimbang ketergesa-gesaan.
Setiap murid harus merendahkan suara di majelis gurunya. Ia tidak boleh menunjukkan sikap dan perilaku tercela serta tidak pantas. Ia tidak boleh meninggalkan majelis guru untuk pulang sebelum waktu. Ia harus menyimak perkataan guru, serta setiap isyarat yang disampaikan oleh gurunya dengan ikhlas dan kearifan. Ia tidak boleh membebani guru dengan berbagai pertanyaan dan informasi yang memusykilkan dan cenderung memberatkan guru. “Setiap murid harus menjaga perasaan gurunya berkenaan dengan keyakinan, hati nurani dan kejiwaannya. Ia tidak boleh menantang wajah guru, agar tidak tertutup hikmah dan kearifan yang terpancar dari cahaya kerahmatan”.[9] Suatu dialog antara murid dengan guru, antara murid dengan sesama, dan antara murid dengan masyarakat luas harus mencitrakan suasana dan rona kritis, namun santun, serta penuh kehangatan dan keakraban. Suatu polemik yang tidak etis dan tak terpuji, akan menyebabkan tertutupnya hikmah Ilahiyah dan kearifan yang senantiasa menaungi setiap majelis ilmu.
Setiap murid tidak boleh menukil atas nama dirinya terhadap setiap pernyataan tanpa menyebutkan sumbernya. Ia juga tidak boleh menukil pernyataan guru atas nama dirinya, dan ia boleh menyampaikannya sekedar untuk kepentingan seiring dengan pemahaman orang yang diajak bicara, dan telah mendapat izin untuk disebarkan oleh gurunya. Ia senantiasa harus menjaga kejujuran moral dan intelektual, serta integritas keilmuannya.[10]
Setiap murid tidak boleh menyembunyikan misteri, rahasia spiritual dirinya di hadapan guru. Ia harus meyampaikan dan menjelaskan pengalaman spiritualnya kepada guru secara komprehensip (terbuka), tulus dan jujur. Ia harus memaparkan dengan sungguh-sungguh setiap kata hati, dan keseluruhan upaya spiritualitasnya kepada guru.
Setiap murid tidak boleh memperlakukan guru semaunya. Ia tidak boleh menghadap guru mendadak tanpa mengenal waktu. Ia tidak boleh menghadap guru ketika guru dalam keadaan sibuk atau istirahat. Jika murid mempunyai kepentingan dengan guru jangan sekali kali menyuruh orang lain. Ia tidak dibenarkan mengganggu dan merepotkan guru dengan membebani kehidupan, dan jika berbicara dengan guru hendaknya mengenai hal-hal yang lebih memiliki makna pencerahan dan menyenangkan. Ketika ia berbicara dengan guru, pembicaraanya hendaknya penuh perhatian dan beradab sopan santun.
Jangan sekali kali menggunjing, mengolok olok, mengumpat, mengkritik, dan menyebarluaskan aib guru kepada orang lain. Murid tidak boleh gundah atau menyesali kepada guru, jika guru menghalangi maksud dan tujuan murid. Murid harus yakin dan sadar, bahwa setiap keputusan guru mengandung kearifan dan hikmah yang luas. Murid hendaknya menjaga kehalusan budi dan jiwa guru, agar senantiasa terpancar cahaya rahmaniyah hati guru kepadanya. Hubungan guru dengan murid dengan paradigma bahwa setiap mukmin adalah cermin terhadap sesama.
Apabila guru memerintahkan sesuatu, murid harus melaksanakannya, walaupun terasa berat menurut pertimbangan nafsunya. Murid harus yakin dan sadar bahwa setiap perintah guru mengandung inti kearifan dan hikmah yang luas. Jika murid mengundang guru hadir di tempat tinggalnya, jangan sekali kali memaksa. Tetapi mintalah sesuai dengan kelonggaran dan keleluasan yang menyenangkannya. Apabila guru tidak bisa hadir secara pribadi, maka murid harus yakin, bahwa rohani guru dan do’a restunya hadir di tempat murid. Hati murid senantiasa diliputi rasa bahagia dan rasa senang kepada guru dan keluarganya.
Jangan sekali kali mengucapkan perkataan: “dahulu adalah guruku, dan sekarang bukan.”[11] Jangan sekali-kali menyebut mantan guru kepada gurunya, karena ia bukan muridnya lagi. Jangan berseberangan dengan guru karena sesuatu kesalahan yang lalu dari guru kepadanya. Apabila guru wafat, murid tidak boleh mengawini janda gurunya. Jika ia ingin berkhidmat, bisa mengawini dengan salah seorang anaknya. Anggaplah anak guru sebagai saudara. Sesungguhnya, guru adalah bapak spiritual, sedangkan bapak kandung, adalah bapak jasmani fisik.

C.     Kriteria Guru Yang Baik
Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing”.[12] Pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.[13]
Al-Ghazali berpendapat bahwa guru yang dapat diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya  Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh  dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.[14]
Selain sifat-sifat umum yang harus dimiliki guru sebagaimana disebutkan di atas, seorang guru juga harus memiliki sifat-sifat khusus atau tugas-tugas tertentu sebagai berikut:
1.   Jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.
2.   Karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu. Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW. yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada Allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah SWT. Namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai.
3.   Seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan. Seorang guru tidak boleh tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.
4.   Dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Dan jika keadaan ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.
5.   Seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya. Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik.
6.   Seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya.
7.   Seorang guru yang baik menurut Al-Ghazali adalah guru yang di samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat dan kejiwaannya muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Kepada murid yang kemampuannya kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekalipun guru itu menguasainya. Jika hal ini tidak dilakukan oleh guru, maka dapat menimbulkan rasa kurang senang kepada guru, gelisah dan ragu-ragu.
8.   Seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa. Dalam hubungan ini Al-Ghazali mengingatkan agar seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebaliknya jika hal itu dilakukan akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan yang pada gilirannya akan menyebabkan ia kehilangan kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Ia tidak akan mampu lagi mengarahkan atau memberi petunjuk kepada murid-muridnya.[15]

Dari delapan sifat guru yang baik sebagaimana dikemukakan di atas, tampak bahwa sebagiannya masih ada yang sejalan dengan tuntutan masyarakat modern. Sifat guru yang mengajarkan pelajaran secara sistematik, yaitu tidak mengajarkan bagian berikutnya sebelum bagian terdahulu dikuasai, memahami tingkat perbedaan usia, kejiwaan dan kemampuan intelektual siswa, bersikap simpatik, tidak menggunakan cara-cara kekerasan, serta menjadi pribadi panutan dan teladan adalah sifat-sifat yang tetap sejalan dengan tuntutan masyarakat modern. 

D.     Kriteria Murid Yang Baik
Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Islam, peserta didik hendaknya memiliki dan menanamkan sifat-sifat yang baik dalam diri dan kepribadiannya. Di antara sifat-sifat ideal yang perlu dimiliki peserta didik misalnya; berkemauan keras atau pantang menyerah, memiliki motivasi yang tinggi, sabar, tabah. tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.
Berkenaan dengan sifat ideal di atas, Imam al-Ghazali merumuskar sifat-sifat yang patut dan harus dimiliki peserta didik kepada 10 macam sifat yaitu:
1.        Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Konsekuensi dari sikap ini, peserta didik akan senantiasa mensucikan diri dengan akhlaq al-karimah dalam kehidupan sehari-harinya, serta berupaya meninggalkan watak dan akhlak yang rendah (tercela).
2.        Mengurangi kecederungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi atau sebaliknya. Sifat yang ideal adalah menjadikan kedua dimensi kehidupan (dunia-akhira) sebagai alat yang integral untuk melaksanakan amanah-Nya ­baik secara vertikal maupun horizontal.
3.        Bersikap tawadhu' (rendah hati).
4.        Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai aliran. Dengan pendekatan ini, peserta didik akan melihat berbagai pertentangan dan perbedaan pendapat sebagai sebuah dinamika yang bermanfaat untuk menumbuhkan wacana intelektual, bukan sarana saling menuding dan mengganggap diri paling benar.
5.        Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik ilmu umum maupun agama.
6.        Belajar secara bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkrit) menuju pelajaran yang sulit (abstrak) atau dari ilmu yang fardhu `ain menuju ilmu yang fardhu kifayah..
7.        Mempelajari suatu ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya. Dengan cara ini, peserta didik akan memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
8.        Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9.        Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
10.   Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat, mem­bahagiakan, mensejahterakan, serta memberi keselamatan hidup dunia dan akhirat, baik untuk dirinya maupun manusia pada umumnya.[16]

E.     Hubungan Guru dan Murid Dalam Interaksi Edukasi
Untuk dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif, maka guru harus dapat menciptakan sebuah hubungan atau interaksi baik dengan siswanya. Dengan interaksi yang baik, maka proses pembimbing siswa untuk mengikuti dan selanjutnya menguasai materi pelajaran yang diberikan dapat maksimal.
“Interaksi edukasi menjadi tuntutan utama bagi proses pembelajaran yang dibimbing oleh guru. Dengan interaksi edukasi ini, maka terjadi komunikasi dua arah antara guru sebagai fasilitator pembelajaran dan siswa sebagai subyek belajarnya.”[17] Keberhasilan proses pembelajaran pada dasarnya tergantung pada situasi yang tercipta atau diciptakan di antara pembelajar dan pelajar atau pedidik dan anak didiknya. Hal ini terkait dengan konsep dasar pembelajaran yang sangat membutuhkan sebuah kondisi yang kondusif. Kondisi kondusif dapat tercipta jika diantara kedua pihak mempunyai persepsi yang sama terhadap tujuan proses yang mereka jalani. Jika tidak, tentunya kondisi tersebut hanya kamuflase atas tujuan semu semata.
Tanpa interaksi edukasi yang baik, tentunya akan terjadi perekayasaan sikap terhadap proses yang mereka lakukan. Dan, jika telah terjadi perekayasaan tentunya hal tersebut sudah merupakan pertanda kondisi negatif. Untuk mencapai keberhasilan di dalam proses pembelajaran, maka seorang guru harus mampu menerapkan metode interaksi edukasi yang sesuai dengan kondisi saat proses berlangsung.
“Interaksi edukasi merupakan prasyarat agar tercipta sebuah komunikasi dua arah yang selanjutnya memberikan pengalaman belajar maksimal bagi anak didik.”[18] Peningkatan kualitas hasil proses pembelajaran memang tergantung pada sikap para pelaku pembelajaran, pembelajar dan pelajar pada saat mengikuti proses pembelajarannya. Hal ini karena pada prinsipnya proses pembelajaran merupakan interaksi antar dua orang atau lebih untuk melakukan perubahan tersistematis pada satu sisi, yaitu anak didik. Jika tidak terjadi interaksi edukasi yang baik, tentunya proses pembelajaran tidak dapat berlangsung maksimal.



[1]Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, Cet III, (Jakarta: Rajawali, 2003), hal. 176.
[2] Ibid, hal. 179.

[3]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengaja, Cet VII, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 32.
[4]Ibid, hal. 38
[5]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Cet I, (Jakarta: Rineka Cipta), hal. 26.
[6]Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Cet VII, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 15.
[7]Soetjipto, Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Cet IV, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hal.  45.
[8]Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 59.
[9]Ibid, hal. 79.
[10]Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 158.
[11]Ibid, hal. 160.
[12]Ramayulis, Didaktik Metodik, (Padang: Rosdika Karya, 2002), hal. 42.
[13] Ibid, hal. 36
[14]Imam Al-Ghazali, Ihyaa Ulumuddin, Juz I, (Beirut: Daar al-Fikr,  t.t), hal. 39.
[15]Ibid, hal. 49-51.
[16]Ibid, hal. 59
[17]Cece Wijaya, Kemampuan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Roesdakarya, 2004), hal. 67
[18] Roestiyah, Masalah-masalah ilmu keguruan, (Jakarta: Bina Aksara, 2002), hal. 37

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar