Senin, 25 April 2011

KEDUDUKAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM


A.  Pentingnya Pendidikan Islam.

Pendidikan Islam, sebagaimana halnya institusi-institusi pendidikan lain, memainkan peranan penting dalam menyiapkan aset bangsa yang terdidik, berperilaku dan berkepribadian yang baik. Namun pada sisi lain, pendidikan Islam memiliki karakteristik fundamental yang membedakannya dari bentuk pendidikan lainnya, yaitu bahwa pendidikan Islam adalah bentuk pendidikan yang dilaksanakan atas dasar keagamaan dan bertujuan mewujudkan tujuan-tujuan keagamaan. Ajaran Islam yang bersifat normatif menjadi landasan utama dalam sistem pendidikan Islam, sehingga dengan sendirinya karakteristik, cita-cita dan tujuan paedagogiknya terwarnai oleh nilai-nilai keislaman yang religius transendental.
Zarkawi Soejoeti mencoba menawarkan analisisnya tentang batasan umum pendidikan Islam. Ia menekankan pada kategori yang menempatkan Islam, bukan saja sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan kependidikan, namun juga merupakan obyek studi yang ditawarkan lewat proses pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan.[1]
Pandangan di atas menegaskan bahwa pada dasarnya pendidikan Islam, bagaimanapun betuk, model dan sistem yang diterapkan, sangat menitik beratkan pada upaya pemahaman terhadap nilai-nilai Islam sebagai way of life. Karena itu dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar melaksanakan

 proses pembelajaran yang bertujuan menciptakan manusia yang potensial secara intelektual melalui transfer of knowledge. Lebih dari itu, pendidikan Islam tetap bermuara pada cita-cita pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika dan berestetika melalui transfer of values yang terkandung di dalamnya.
Ajaran Islam yang terumuskan dalam bentuk nilai-nilai diharapkan pada gilirannya terekspresi dalam bentuk sikap dan pandangan hidup muslim sejati sebagaimana yang dicita-citakan oleh al-Qur'an. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa hakikat cita-cita pendidikan Islam tampak lebih dekat dengan ruh spiritual yang menjadi kandungannya. Sehingga dikatakan bahwa keinginan yang paling subtansial dari pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia beriman dan berpengetahuan.
Islam telah menetapkan keimanan sebagai salah satu dasar dalam upaya pembinaan jiwa manusia, yang pada gilirannya sangat menentukan terbentuknya pribadi muslim yang utuh. Tanpa keimanan, mustahil akan terbentuk pribadi muslim sebagaimana yang diharapkan, sebab keimanan kepada hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap seluruh sistem perilaku dan aktifitas kehidupan manusia.  
Secara khusus, urgensi keimanan pada konsep pendidikan itu tentunya memberi isyarat bahwa aspek keimanan, khususnya keimanan kepada alam gaib, memberikan dampak atau pengaruh penting dalam proses pembinaan manusia muslim yang kamil. Dengan kata lain, nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam keberimanan seseorang akan memberikan dorongan-dorongan spiritual untuk senantiasa berpikir, bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan tuntunan Islam.  
Salah satu implikasi keterikatan seseorang dengan alam gaib adalah timbulnya ketaqwaan. Dari sikap ketaqwaan inilah ia dapat terkontrol oleh potensi furqan, yaitu kemampuan internal pada seseorang yang memberinya pengetahuan dan hikmah, hingga ia mampu membedakan antara perbuatan baik dan buruk.[2]

B.  Dasar Dan Tujuan Pendidikan Agama.

Sebagai kegiatan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya pendidikan agama Islam memerlukan dasar yang kuat sebagai pegangan dalam pelaksanaan dan penentuan arah usaha tersebut.
Dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam terutama adalah Al-Qur’an dan Hadist. Berdasarkan firman Allah Swt:

وكذ لك أوحينا اليك روحا من امرنا‘ ما كنت تدرئ ماالكتب ولا الايمن ولكن جعلنه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا‘ وانك لتهدي الي صرط مستقيم  ( الشوري :      )

Artinya: Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al–Qur'an itu cahaya yang kami berikan petunjuk dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba–hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk  kepada jalan yang benar. (Q.S Asy-Syura : 52)

Al-Qur’an diturunkan kepada ummat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhai Allah Swt.
Demikian pula dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah benar–benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, penyuluhan dengan pendidikan Islam. Sedangkan tujuan pendidikan agama Islam pada umumnya adalah identik dengan tujuan hidup manusia Muslim, yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesuai dengan firman Allah SWT :

 ربنا ءاتنا في الد نيا حسنة وفي الا خرة حسنة وقنا عذاب النار ( البقرة :        )
Artinya: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikkan di dunia dan kebaikkan di akhirat dan peluharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Al-Baqarah : 201).

               Untuk mencapai tujuan akhir tersebut, manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah Swt dengan cara melaksanakan ibadah kepada-Nya agar menjadi orang yang bertaqwa. Karena tujuan diciptakan manusia adalah untuk menyembah Allah Swt, berdasarkan firman-Nya :

 وما خلقت الجن والا نس الا ليعبدون  (الذاريت :        )
Artinya:  Dan aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. ( Q.S.az-Zariyat : 56 )

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama sesungguhnya ahíla membina manusia untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah Swt, sehingga memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mewujudkan manusia pengabdi kepada Allah Swt dalam semua sapek kehidupan ini tidak memadai pembinaan dengan hanya memberikan sejumlah pengetahuan tioritis tentang agama saja, tetapi harus mencakup aspek sikap dan ketrampilannya dalam mempraktekkan dalam kehidupan yang nyata.
Dengan adanya hubungan hamba dengan Khaliqnya yang diserta ketaatan  yang ikhlas, maka  berarti orang tersebut selalu dekat dengan Tuhannya sehingga ia tidak mau melakukan sesuatu perbuatan dan mengucapkan percatan kecuali yang ia yakin benar hal tersebut disukai oleh Allah dan mendapat ridha-Nya.
Orang-orang yang telah mendapat bimbingan melalui ibadahnya mereka selalu merasa puas dalam hidupnya, sehingga jiwanya tidak bimbang dan tidak diliputi rasa keraguan. Mereka tidak gelisah seandainya ditimpa oleh statu musibah, tetapi mereka bersikap sabar dan mereka  bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah Swt.
Dengan demikian jelaslah bahwa ibadah mereka adalah bukti mereka adalah bukti  iman kepada Allah dan tanda penyerahan diri kepada-Nya. Orang yang menjadikan Ibadan sebagai jalan hidupnya dan bahagia dalam jiwanya, mengamalkan segala yang diperintahkan Allah dengan segenap kemampuannya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ia selalu optimis dalam mengharapkan jaminan akan perlindungan Allah selama hidunya, serta balasan yang terbaik diakhirat kelak.
C. Trilogi Pendidikan Islam.

Menurut Islam; pendidikan memiliki makna dan dimensi yang lebih luas yakni mencakup diri, lingkungan dan Tuhan. Maksudnya pendidikan haruslah bermakna dan dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia sehingga dapat bermanfaat bukan hanya bagi diri nya sendiri; tapi juga lingkungannya ( sosial dan fisik ) serta dapat melaksanakan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Pendidikan berlangsung di tiga tempat atau matra ( dikenal dengan istilah Trilogi Pendidikan) yaitu di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berhasil tidaknya suatu pendidikan ditentukan oleh harmonis tidaknya hubungan ketiga unsur tersebut. Adapun pemerintah termasuk unsur masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Pemerintah lebih sering berperan sebagai fasilitator yakni sebagai penyedia fasilitas yang diperlukan dalam pendidikan; seperti kurikulum, kebijakan umum, pembiayaan dan sebagainya.[3]
Ada lima unsur utama yang sangat berperan dalam proses pendidikan.  Kelima unsur tersebut lebih dikenal dengan singkatan 5 M; yakni : Man, Material, Money, Message and Management. Man adalah unsur manusia; terutama pendidik dan peserta didik. Material yaitu seluruh sarana dan fasilitas yang diperlukan dalam proses pendidikan. Money adalah keuangan atau pembiayaan. Message ialah pesan atau ilmu yang disampaikan. Sedangkan Management adalah pengelolaan dalam arti luas; terutarna mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
Pokok isi utama pendidikan adalah ilmu. Sumber ilmu yang utama adalah dari Allah. Sebagaimana firmannya:
علم ا لا نسن ما لم يعلم (سورة العلق:     )
Artinya: "Dia mengajarkan kepada manusia apa‑apa yang tidak diketahuinya" (Q.S.Al- Alaq : 5).
Ilmu diperoleh melalui berbagai cara, namun dari keseluruhan cara tersebut dapat kita simpulkan menjadi satu kata yakni "membaca" (dalam arti luas). Maksudnya adalah membaca ayat‑ayat yang terdapat dalarn Kitab Suci AlQur an (ayat Qauliyah) dan pesan‑pesan atau tanda‑tanda yang terdapat di alam semesta ini (ayat Kauniyah).
Selain itu konsep ilmu dalam Islam hendaknya mengacu kepada lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu harus bersifat applicable . Hal ini dapat ditelusuri dari beragamnya ilmu yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul serta para umat mereka. Misalnya Nabi Nuh as, mendapat ilmu tentang pembuatan perahu bahtera, Nabi Daud as diberi ilmu tentang pembuatan baju besi, umat Nabi Shalih as memiliki keahlian memahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal, dan sebagainya. Meski ragamnya berbeda, semua memiliki nilai yang sama yakni semua diarahkan untuk mengenal Allah Swt dengan segala sifat‑sifat-Nya sehingga manusia selalu merasa di dekat-Nya serta mampu mengubah dunia sesuai kebutuhan manusia sekaligus melestarikannya.[4]
Secara ringkas pendidikan Islam memiliki asas, prinsip dan tujuan sebagai berikut:

A. Asas Pendidikan Islam.
Pendidikan Islam dilaksanakan berdasarkan asas‑asas:
1. Melaksanakan perintah Allah Swt dan teladan Rasulullah saw.
Pendidikan dalam Islam merupakan realisasi dari kewajiban menuntut i1mu yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menuntut ilmu bisa dilaksanakan secara perorangan maupun kelompok.
2. Beribadah kepada Allah Swt.
Dikarenakan menuntut ilmu itu diperintahkan oleh Allah Swt. Dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Maka mengamalkannya merupakan ibadah dan diberi pahala oleh Allah Swt.
3. lkhlas dan mengharap ridla Allah Swt.
Setiap mengamalkan atau melaksanakan ibadah kita dituntut untuk ikhlas, yakni dilaksanakan dengan senang hati dan mengharap ridla Allah Swt. Namun bukan berarti kita tidak boleh mengharapkan atau mendapatkan apa‑apa. Hak‑hak kitapun perlu kita. dapatkan seiring dengan kewajiban‑kewajiban yang dilaksanakan.
4. Ilmu yang benar dan diridlai Allah Swt.
Islam tidak mengenal pemisahan (dikhotomi) antara, ilmu dunia dan akhirat. Keduanya perlu dan wajib kita miliki, karena keselamatan dan kebahagiaan di akhirat juga ditentukan oleh keberhasilan dan ibadah selama di dunia. Oleh karena itu. semua ilmu yang dibutuhkan untuk keberhasilan di dunia dan di akhirat perlu kita miliki, kecuali ilmu, yang dapat menjauhkan diri kita dengan Allah ; seperti ilmu sihir, ilmu nujum, meramal nasib, dan ihnu‑ihmu jahat lainnya.
B. Prinsip Pendidikan Islam.
1. Berlangsung seumur hidup
Menuntut ilmu. itu hukumnya fardlu ain yaitu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim selama hidupnya , karena itu menuntut ilmu atau pendidikan itu berlangsung seumur hidup (life long education) yakni sejak dilahirkan sampai meninggal.
2. Tidak dibatasi ruang dan jarak .
Pendidikan dalam. Islam dapat dilaksanakan dimana saja. Tidak hanya di dalam ruangan saja, tapi di alam terbuka juga bisa. Bahkan bukan hanya di dalam kota atau di dalam. negeri saja, kalau perlu ke luar kota atau ke luar negeri. Hal ini sudah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, para. sahabatnya, serta para alim ulama.
3. Bersungguh‑sungguh dan rajin.
Setiap pengamalan ibadah dalam Islam (termasuk pendidikan) haruslah dilaksanakan dengan sungguh-­sungguh dan rajin (kontinue) karena hanya dengan demikian akan terwujud semua tujuan dan harapan.
4. Harus diamalkan.
Setiap ilmu yang telah dimiliki, dipahami dan diyakini kebenarannya haruslah diamalkan. Manfaat i1mu. baru dirasakan dan lebih berkah setelah diamalkan
5. Guna mewujudkan kebaikan hidup.
Setiap ihnu yang didapat selain harus diamalkan juga harus membawa manfaat; baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Misalnya setelah mendapat ilmu maka ada perubahan perilaku pada dirinya ke arah yang lebih baik. Begitu juga orang‑orang di sekitarnya harus mendapat manfaat dari ilmu yang dimilikinya itu.
C. Tujuan Pendidikan Islam.
Pendidikan dalam. Islam harus-lah berusaha membina atau mengembalikan manusia kepada. fitrahnya yaitu kepada Rubbubiyyah Allah sehingga mewujudkan manusia :
1.Berjiwa Tauhid.
Tujuan yang pertama ini harus ditanamkan kepada para peserta didik sesuai dengan firman Allah dalam Surat Luqman:

 ولو شئنا لا تينا كل نفس هد ئها ولكن حق القو ل منى لا ملا ن جهنم من الجنة والنا س اجمعين ( سورة لقمان :    )
Artinya: Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (Q.S. Luqman: 13).

Insan yang mengenyam pendidikan serta berjiwa tauhid sangat yakin bahwa ilmu yang ia miliki adalah bersumber dari Allah. Dengan demikian ia tetap rendah hati dan semakin yakin akan Kebesaran Allah serta lebih rajin dalam beribadah,
2. Taqwa kepada Allah Swt.
Mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah merupakan tujuan pendidikan Islam, sebab walaupun ada orang yang genius dan gelar akademisnya. sangat banyak; tapi kalau tidak bertaqwa kepada Allah maka ia dianggap tidak / belum berhasil.
... إ ن اكرمكم عند الله أتقكم ... ( سورة الحجرات:     )
Artinya:      …Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…( Q.S. Al-Hujurat: 13).

3. Rajin beribadah dan beramal shalih.
Apapun aktivitas dalam hidup ini haruslah didasarkan untuk beribadah kepada Allah, karena itulah tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini seperti tertera dalam Surat Adz Dzariyat:
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون ( سورة الذاريات:       )
Artinya:  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka  mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat:56).

4. Ulil albab (pemerhati/ pemikir)
Tujuan pendidikan Islam berikutnya adalah mewujudkan ulil albab yaitu orang-orang yang dapat meneliti dan memikirkan Keagungan Allah melalui ayat-ayat qauliyyah yang terdapat dalam Kitab Suci Al Quran dan ayat-ayat kauniyyah (tanda-tanda kekuasaan Allah) yang terdapat di alam semesta. Mereka ilmuwan dan intelektual, tapi mereka juga rajin berdzikir dan beribadah kepada Allah Swt. Seperti difirmankan Allah dalam Surat Ali Imran :
 إن فى خلق السموت والارض واختلف اليل والنهار لايت لاولى الالبب‘ الذين يذكرون الله قيما وقعودا وعلى جنو بهم ويتفكرون فى خلق السموت والارض ربنا ما خلقت هذا بطلا سبحنك فقنا عذاب النار (سورة ال عمران:     )
Artinya:  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali-Imran: 190-191).

5. Berakhlak Mulia.
Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan manusia yang memiliki kecerdasan saja, tapi juga harus berakhlak mulia. Karena kecerdasan tanpa diimbangi oleh akhlak yang mulia hanya akan menjadikan manusia‑manusia yang akan membuat kerusakan di muka bumi. Dengan dimiliki kecerdasan dan akhlak yang mulia akan terwujud kedamaian. Keadilan dan kesejahteraan di muka bumi.
D. Sejarah Pendidikan Islam.
Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut sebuah perhitungan manusia Muslim Indonesia adalah jumlah pemeluk agam Islam terbesar di dunia. Jika dibanding dengan negara-negara Muslim lainnya, maka penduduk Muslim Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sebenarnya merupakan sumber daya manusia dan kekuatan yang sangat besar, bila mampu dioptimalkan peran dan kualitasnya. Jumah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar di atas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional.
Namun realitas membuktikan lain. Jumlah manusia Muslim yang besar tersebut ternyata tidak mamiliki kekuatan sebagaimana seharusnya yang dimiliki. Jumlah yang sangat besar di atas belum didukung oleh kualitas dan kekompakan serta loyalitas manusia Muslim terhadap sesama, agama, dan para fakir miskin yang sebagian besar (untuk tidak mengatakan semuanya) adalah kaum Muslimin juga. Kualitas manusia Muslim belum teroptimalkan secara individual apalagi secara massal. Kualitas manusia Muslim Indonesia masih berada di tingkat menengah ke bawah. Memang ada satu atau dua orang yang menonjol, hanya saja kemenonjolan tersebut tidak mampu menjadi lokomotif bagi rangkaian gerbong manusia Muslim lainnya. Apalagi bila berbicara tentang kekompakan dan loyalitas terhadap agama, sesama, dan kaum fakir miskin papa. Sebagian besar dari manusia Muslim yang ada masih berkutat untuk memperkaya diri, kelompok, dan pengurus partainya sendiri. Masih sangat sedikit manusia Muslim Indonesia yang berani secara praktis—bukan hanya orasi belaka—memberikan bantuan dan pemberdayaan secara tulus ikhlas kepada sesama umat Islam, khususnya para kaum fakir miskin papa.
Paradoksal fenomena di atas, yakni jumlah manusia Muslim Indonesia yang sangat besar akan tetapi tidak memiliki kekuatan ideologi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, dan kekuatan gerakan adalah secara tidak langsung merupakan dari hasil pola pendidikan Islam selama ini. Pola dan model pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini masih berkutat pada pemberian materi yang tidak aplikatif dan praktis. Bahkan sebagian besar model dan proses pendidikannya terkesan “asal-asalan” atau tidak professional. Selain itu, pendidikan Islam di Indonesia negara tercinta mulai tereduksi oleh nilai-nilai negatif gerakan dan proyek modernisasi yang kadang-kadang atau secara nyata bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
·         Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional.
Pendidikan Islam yang dalam hal ini dapat diwakili oleh pendidikan meunasah atau dayah, surau, dan pesantren diyakini sebagai pendidikan tertua di Indonesia. Pendidikan Pendidikan ketiga institusi di atas memiliki nama yang berbeda, akan tetapi memiliki pemahaman yang sama baik secara fungsional, substansial, operasional, dan mekanikal. Secara fungsional trilogi sistem pendidikan tersebut dijadikan sebagai wadah untuk menggembleng mental dan moral di samping wawasan kepada para pemuda dan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara. Secara substansial dapat dikatakan bahwa trilogi sistem pendidikan tersebut merupakan panggilan jiwa spiritual dan religius dari para tengku, buya, dan kyai yang tidak didasari oleh motif materiil, akan tetapi murni sebagai pengabdian kepada Allah. Secara operasional trilogi sistem penidikan tersebut muncul dan berkembang dari masyarakat, bukan sebagai kebijakan, proyek apalagi perintah dari para sultan, raja, atau penguasa. Secara mekanikal bisa dipahami dari hasil pelacakan historis bahwa trilogi sistem pendidikan di atas tumbuh secara alamiah dan memiliki anak-anak cabang yang dari satu induk mengembang ke berbagai lokasi akan tetapi masih ada ikatan yang kuat secara emosional, intelektual, dan kultural dari induknya.
Sebelum masuknya penjajah Belanda triilogi sistem pendidikan pribumi tersebut berkembang dengan pesat sesuai dengan perkembangan agama Islam yang berlangsung secara damai, ramah, dan santun. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan bukti bagi kesadaran masyarakat Indonesia akan sesuainya model pendidikan Islam dengan nurani masyarakat dan bangsa Indonesia saat itu. Kehidupan masyarakat terasa harmonis, selaras, dan tidak saling mendominasi. Hanya saja sejak masuknya bangsa penjajah baik Spanyol, Portugis, dan Belanda dengan sifat kerakusan akan kekayaan dan materi yang luar biasa menjadikan masyarakat Indonesia tercerai berai. Terdapat sebagian masyarakat pribumi yang masih teguh dengan pendirian dan ajaran yang diperoleh di dayah, surau, dan pesantren ada juga yang sudah mulai terbuai dengan bujuk rayu para penjajah jahat tersebut.
Sebagian manusia pribumi yang menerima bujukan dan rayuan penjajah di atas adalah manusia pribumi yang telah lupa dan memang secara sadar melupakan ajaran yang mereka peroleh di tempat pendidikannya. Mereka juga terbius dengan iming-iming kekayaan dari para penjajah yang sangat licik. Kelicikan dan kejahatan para penjajah memang tidak pernah diungkap oleh para sejarawan. Kelicikan dan kejahatan penjajah sudah tidak bias diterima manusia normal. Bujukan dan rayuan yang manis dari para penjajah diarahkan kepada manusia pribumi yang kelihatan secara moral, kepribadian, praktik keagamaan masih lemah dan rendah. Moralitas yang rendah, kepribadian yang lemah dan tingkat ketaatan keagamaan minim merupakan sasaran empuk bagi para penjajah.
Trilogi sistem pendidikan Islam di atas mulai tergerus bahkan memang sengaja dibatasi serta dimatikan oleh penjajah. Para penjajah memandang bahwa trilogi sistem pendidikan Islam tersebut pada dasarnya bukanlah lembaga pendidikan akan tetapi hanyalah lembaga agitasi dan provokasi untuk melawana penjajahan. Dengan asumsi yang demikian, maka menjadi sangat wajar ketika penjajah berusaha untuk mengkerdilkan atau bahkan mematikannya. Di saat yang bersamaan penjajah mendirikan sistem pendidikan alam negara penjajah. Di sini telah terjadi polarisasi lembaga pendidikan yang pada awalnya hanya mengenal pendidikan tradisional, maka pada masa penajajahan ini mulai muncul sistem pendidikan modern. Di sinilah cikal-bakal mulai munculnya istilah pendidikan tradisional dan pendidikan modern. Adanya fragmentasi ini kemudian juga merembet ke dikotomisasi ilmu pengetahuan yaikni ada ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama dipahami sebagai ilmu-ilmu yang diberikan secara tradisional oleh trilogi sistem pendidikan Islan sedangkan ilmu umum digunakan untuk menyebut ilmu-ilmu yang diberikan oleh lembaga pendidikan modern, dalam hal ini sekolah-sekolah yang didirikan para penjajah. Adanya persaingan yang tidak seimbang antara kaum penjajah dan penduduk asli, maka sebagian besar manusia Indonesia mulai mengalami perubahan dalam kehidupannya.[5]
Mulai saat ini pulalah manusia Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dalam aspek ideologi, ekonomi, politik, maupun moralitas. Dalam aspek ideologi manusia pribumi mulai ada yang bergeser dari ideologi spiritualisme-religius ke ideologi materialisme, kapitalisme. Ideologi materialisme kapitalisme adalah ideologi yang lebih mementingkan kekayaan materi dan kekayaan tersebut digunakan untuk dirinya sendiri. Kekayaan yang diperoleh dengan cara memeras dan menyiksa para fakir miskin adalah sebuah perilaku para pengkiut ideilogi ini. Dalam aspek ekonomi juga mulai bergeser dari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya mengarah ke orientasi untuk menguasi seluruh kekayaan yang ada, sehingga kekayaan tesrebut hanya untuk dirinya sendiri. Hal ini memang merupoakan konskuensi logis dari pergeseran ideologi di atas. Karena secara teoritis dan praktis antara ideologi dan perilaku ekonomi akan memiliki kesejajaran dan kesinambungan. Dalam aspek politik kehidupan masyarakat bergeser dari sekedar menjadikannya sebagai sarana untuk menmgembangkan ajaran dan moralitas masyarakat bergeser menjadi sebagai sarana untuk menguasai masyarakat baik secara cultural maupun truktural. Inilah yang belakangan menyebabkan munculnya kekayaan struktural dan kemiskinan struktural. Yaitu kondisi dan keberlangsungan kehidupan masyarakat dimana yang kaya semakin kayak arena menguasai seluruh akses kekayaan, sedangkan yang miskin semakin miskin karena memang telah direbut seluruh aksesnya oleh orang yang kaya.
Dalam aspek moralitas pergeseran terjadi pada pandangan masyarakat tentang konsep moralitas itu sendiri. Moralitas di sini dipahami sebagai konsep tentang moral atau kebaikan atau baiknya sesuatu yang telah dikonstruksi oleh masyarakat. Ketika penjajah yang berkuasa di Indonesia, maka konsepsi tentang moral harus mengikuti konstruksi masyarakat penajajah. Sedangkan sebagaimana dijelaskan di depan bahwa ideologi para penjajah adalah materialisme-kapitalis, maka sesuatu atau seseorang dianggap baik dan bermoral ketika sesuatu itu bermanfaat dan berguna secara materiil. Seseorang dikatakan kurang moralitas dan nilainya di hadapan masyarakat ketika seseorang itu tidak mampu memberikan manfaat dan kegunaan secara materiil. Orang yang dianggap berhasil dan bermoral adalah seseorang yang telah memiliki jabatan, kekayaan, dan harta lebih dari orang tuanya. Demikianlah pergesaran yang terjadi sebagai akibat terjadinya penjajahan di Indonesia.[6]
Pada masa penjajahan Jepang yang merupakan Saudara Tua (karena sama-sama di benua Asia dengan Indonesia) pendidikan tradisional mulai mendapatkan angin kemajuan. Namun, semua itu tidak ada artinya karena memang penjajahan Belanda sebagai salah satu bangsa Barat atau lebih dikenal dengan bangsa Barat telah menancapkan ideologi, politk, ekonomi, budaya, dan moralitas kepada masyarakat pribumi, maka angina segar tersebut tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian pendidikan tradisional menjadi sangat sulit untuk kemabli lagi ke posisi semual, yakni sebelum adanya penjajahan bangsa Barat.
Memasuki masa kemerdekaan pendidikan Islam masih terus berkutat dengan sistem pendidikan modern (peninggalan Belanda). Sistem pendidikan ini dipelopori oleh para tokoh pendidikan yang telah mengenyam sistem pendidikan Belanda atau Barat. Oleh karena itu, menjadi sangat masuk akal ketika sistem pendidikan nasional Indonesia berkiblat kepada sistem pendidikan Barat. Sistem pendidikan yang berkiblat pada sistem pendidikan Barat secara praktis dan teoritis berbeda dengan sistem pendidikan Islam tradisional. Dari sinilah kemudian terjadi pemisahan antara pendidikan tradisional yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan Islam dan pendidikan modern yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan nasional. Kedua sistem pendidikan ini merupakan sebuah hasil kompromi para funding father negeri ini.
Kompromi yang diambil para funding father negeri ini adalah bahwa pengabaian sistem pendidikan Islam tradisional akan sangat menyakitkan umat Islam. Mengingat jasa dan pengorbanan para ulama dan santri dari trilogi sistem pendidikan Islam tersebut di atas. Pertimbangan lainnya adalah agar umat Islam memiliki lembaga pendidkkan khusus, sehingga mayoritas penduduk Indonesia tidak mengalami kekecewaan yang luar biasa kepada pemerintah. Oleh karena itu, pada masa kemerdekaan tepatnya pada 3 Januari 1946 didirikanlah Departemen Agama yang mengurusi keperluan umat Islam. Meskipun pada dasarnya Departemen Agama ini mengurusi keperluan seluruh umat beragama di Indonesia, namun melihat latar belakang pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.
Dalam masalah pendidikan, kepentingan dan keinginan umat Islam juga ditampung di Departemen ini. Namun sangat disayangkan perhatian para pemimpin negeri ini kurang begitu besar terhadap pendidikan Islam di bawah naungan Depag ini. Hal ini terbukti dengan anggaran yang sangat berbeda dengan saudar mudanya yaitu pendidikan nasional. Perbedaan perhatian dengan wujud kesenjangan anggaran ini kemudian menyebabkan munculnya perbedaan kualitas pendidikan yang berbeda. Di satu sisi lembaga-lembaga pendidikan yang di bawah departemen pendidikan nasional mengalami perkembangan cukup pesat sementara pendidikan Islam yang berada di bawah payung Departemen Agama “terseok-seok” dalam mengikuti perkembangan zaman.
Sampai pada pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru pemisahan sistem dan pengelolaan pendidikan nasional dan pendidikan Islam masih dipertahankan. Artinya adalah bahwa pengelolaan pendidikan Islam masih mengalami nasib yang tidak bagus dibanding dengan saudara mudanya, pendidikan nasional. Walaupun secara substansial kedua sistem pendidikan tersebut oleh pemerintah Indonesia sendiri juga mengalami nasib yang sama buruknya, yaitu rendahnya anggaran pendidikan bila dibanding dengan negara-negara berkembang lain apalagi dibanding dengan negara-negara maju.
Demikianlah nasib perjalanan pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini masih menduduki rangking kurang begitu bagus dibanding negara-negara lainnya. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan menitik beratkan pembangunan pada sector ekonomi menyebabkan pembangunan jiwa dan mental bangsa menjadi termarjinalkan. Padahal pembangunan mental, jiwa, dan moral bangsa adalah sebuah keharusan dan keniscayaan sejarah yang tidak bisa ditawar-tawar, khususnya bagi bangsa Indonesia. Pendidikan ekonomi tanpa didukung dengan pendidikan moral yang kuat hanya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang berpenyakit kronis.
E.  Kedudukan Pendidikan Dan Peserta Didik dalam Pendidikan Islam.

Orang Tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka, dari merekalah anak menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.
Pada dasarnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena kodrati suasana san strukturnya memberikan kemungkinan dalam membangun situasi pendidikan, situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan timbal balik yang saling pengaruh mempengaruhi antara orang tua dan anak.
Orang tua memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir ibunyalah yang selalu ada di sampingnya, oleh karena itu biasanya anak lebih dekat dan cinta kepada ibunya dan kaum ibulah yang menjadi ikutan mereka dalam segala gerak langkah. Hubungan antara ibu fan anak-anaknya didirikan atas dasar belas kasih dan cinta. Karena itu kaum ibulah yang dapat mengembangkan sifat kasih sayang dalam jiwa seorang anak, dan menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga.
Dalam Islam dijelaskan bahwa anak adalah amanah Allah yang harus divaga dengan baik dari segala sesuatu yang membahayakan dirinya, baik yang berhubungan dengan badana maupun rohaniah. Dalam hal ini Allah SWT memperingatkan manusia dengan firman-Nya :
 وليخش الذين لو تر كوا من خلفهم ذرية ضعفا خا فوا غليهم فايتقوا الله   وليقو لوا قولا سد يدا ( النساء :      )
Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. (Q.S. An-Nisa’ : 9).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang islam harus waspada terhadap keselamatan generasi penerus yang ditinggalkan dalam keadaan lemah. Oleh karena itu untuk menyelamatkan mereka adalah dengan jalan membina pendidikan agama secara mantap dalam seluruh aspek kehidupannya, sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi oleh kondisi dan situasi apapun.
Memberikan pendidikan yang wajar kepada anak merupakan tanggung jawab orang tua, baik dia sendiri yang melaksanakannya ataupun diserahkan kepada orang lain (lembaga) tertentu yang bergerak dalam bidang pendidikan, namun demikian tanggung jawab orang tua belum terlepas dalam pendidikan anak, karena dialah yang bertanggung jawab dan kelak akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. Hal ini dapat dipahami dari beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist yang berkenaan dengan masalah ini.
Allah Swt menyatakan dalam firman-Nya :

يأ يها الذ ين ءا منوا قوا انفسكم وأهليكم نا را ( التحريم :      (

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Q.S. At-Tahrim : 6).
Selanjutnya dalam surat yang lain Allah Swt berfirman:

 وا مر اهلك با لصلوة وا صطبر عليها‘ لا نسئلك رزقا‘ نحن نرز قك والعقبة للتقوئ ( الطه:         )
Artinya: Dan perintahkan-lah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu mengerjakannya, kami tidak meminta rezeki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.(Q.S. Thaha : 132).

Berhubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda :

 أول ما يجا سب عليه العبديوم القيا مة صلا تة فان صلحت صلح ساءر عمله وان فسدت فسد ساء ر عمله (رواه الترمذي )
Artinya: Amal yang mula-mula dihisab dari seseorang hamba hari kiamat ialah shalat, apabila shalat baik baiklah segala amalnya dan apabila rusak shalatnya rusaklah segala amalnya.hadist riwayat( H.R.At-Turmudzi )[7]

Sejak kecil hendaklah anak-anak itu disuruh mengerjakan shalat supaya bisa dan apabila anak sudah mengetahui mana tangan kanan dan mana tangan kiri suruhlah mengerjakan shalat dengan suruhan yang ringan dan ketika anak sudah berumur tujuh tahun suruhlah dengan yang lebih keras sedikit dengan penuh bijaksana. Sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadist Rasulullah SAW berikut ini :
 مروا أولادكم  با  لصلاة  وهم  أبناء  سبع  سنين  واض ربواهم  عليها  وهم  أبناء  عشر  سنين  وف رقوا بينهم في المضا خع ( رواه ابو داود)
Artinya: Suruhlah anak-anakmu sembahyang apabila ia memasuki umur 7 tahun dan  pukullah mereka apabila umur 10 tahun dan pisahlah tempat tidur mereka masing-masing. (H.R. Abu Daud).[8]

Selanjutnya dapat kita jadikan pedoman tentang pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan Luqman sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap pembinaan aqidah anaknya sebagaimana dijelaskana dalam al-qur’an yaitu:
 الم ان الفلك تجرئ في البحر بنعمت الله لير يكم من ءايته‘ إن في ذلك لا يت لكل صبا ر شكو ر ( لقمن :      )
Artinya: Tidaklah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah supaya diperhatikannya kepada sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang sabar lagi banyak bersyukur. (Q.S. Luqman : 31).

Dalam ayat ini dengan jelas Allah menegaskan peranan orang tua dalam mendidik dan mengajar anaknya untuk memtauhidkan Allah dan jangan mensyirikkan -Nya sesuai dengan kalimat :
... لا تشر ك با لله ( لقمن :        )
Artinya : .....janganlah kamu mempersekutukan Allah......(Q.S. Luqman : 13)

               Ungkapan larangan di sini supaya anak jangan termasuk golongan yang syirik, karena syirik itu merupakan perbuatan yang dhalim yang sangat besar. Allah SWT berfirman :
...إ ن الشر ك لظلم عظيم ( لقمن :        )
Artinya: ......sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah benar-benar kedhaliman yang besar. (Q.S. Luqman : 13).
                 
Jelaslah bagi kita kewajiban orang tua dalam mendidik anak dan mengajarnya tidak ada batasnya, di mana dan kapan saja, terutama yang menyangkut dengan aqidah sehingga anak terpelihara dari perbuatan sesat. Di sepanjang masa dan waktu orang tua selalu dituntut  agar bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, karena celaka dan bahagianya anak adalah terletak di tangan mereka.
Oleh karena itu orang tua haruslah membina pendidikan agama yang baik anak, dan untuk mengamalkan ajaran agama berarti menempuh jalan untuk berhubungan engan Sang Pencipta (Allah Swt).
Membentuk manusia yang sempurna, berati memberi dia pelajaran yang dibutuhkannya untuk hidup dan mencari penghidupan. Kemudian memberinya pendidikan berupa akhlaq yang akan mengatur dan membimbing pelaksanaan serta pencapaian kecerdasan dan keterampilan tanpa akhlaq dapat merusak, baikk pada dirinya sendiri maupun pada orang lain dan lingkungan alam sekitar.[9]

DR. Zakiah Daratjat mengemukakan bahwa :

Apabila latihan-latihan keagamaan dilalaikan di waktu kecil atau diberi dengan cara yang kaku, salah dan tidak ccocok dengan anak-anaknya, maka waktu dewasa nanti ia akan cenderung kepada atheis dan kurang peduli akan agama.[10]

Berdasarkan kutipan di atas maka jelaslah bahwa orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anaknya terutama dalam membina aqidah. apa lagi mengingat dunia sekarang ini semakin maju, dengan proses industrilisasi dan teknologi yang semakin canggih serta globalisasi yang semakin merusak ke desa-desa.
Oleh karena itulah orang tua harus waspada, jangan sekali-kali mendidik anak dengan ilmu agama sekedarnya saja. Tetapi hendaklah dalam jiwanya ditanamkan pengertian memuliakan agama dan pengertian bahwa hanya agama islam yang diridhai Allah. Jangan sekali-kali memberikan pengertian kepada mereka bahwa semua agama adalah sama. Dengan tertanamnya dasar pendidikan yang kuat maka akan tercipta keluarga bahagia yaitu keluarga yang selalu mentaati agama dan percaya kepada Allah Swt.





[1] Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 2004), hal.35.

[2]Muhammad Rasyid Ridha, Al-Wahyu Al-Muhammadiy, ( Kairo: al-Zahra,2001), hal. 123.

[3] Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam,… hal. 212.

[4] Ibid, hal. 215.

[5]Aden Wijaya, Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, (Yogyakarta: Aditya Media, 2003), hal. 57.

[6]Muzhoffar, Karakteristik, Tujuan, dan Sasaran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Aditya Media, 2004), hal. 186.

[7]Abi Isa Muhammad Bin Isa, Sunan Turmudzi., Juz, I, (Madinah Munawarah: Al-Maktabah As-Salafiyah, , t.t.), hal..258.

[8] Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz, I, ( Bairut:  Darul Fikri t.t.), hal. 131.

[9]Lubis Salam, Menuju Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah, (Surabaya: Terbit Terang, 2004), hal. 94.

[10] Zakiah Daratjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000), hal. 54.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar