Senin, 25 April 2011

PROFIL SURAT AL-BAQARAH AYAT 177


A.     Munasabat Ayat

Surat al-Baqarah diturunkan pada tahun pertama Hijrah. Kebanyakan ayatnya ber­isi teguran kepada orang-orang Yahudi yang mengahang-halangi kemajuan Islam. dan selebihnya menetapkan beberapa ketentuan hukum, seperti perubahan kiblat, kewajiban puasa, haji dan lain-lain.[1]
ليس البر ان تو لوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من امن با لله واليوم الاخروالملئكة والكتاب والنبين واتى المال على حبه دوى القربى واليتامى والمسا كين وابن السبيل والسائلين وفى الرقاب واقام الصلوةواتى الركوةوالموفون بعدهم اذعا هدووالصابرين فى البأساء والضراء وحين الباس اولئك الذين صدقواواولئك هم المتقون (البقرة:١٧٧)

Artinya:   Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah tumur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anan-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah: 177).

Turunnya ayat diatas sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang "al-Bir" (kebaikan).  Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.[2]
Jika kita bisa menangkap pelajaran yang amat jelas tentang karakteristik manusia bertaqwa dan segala sistem dalam Islam, mulai dari sistem aqidah dan keimanan, sistem ritual peribadatan, sistem hubungan sosial kemasyarakatan, serta sistem penegakan hukum dan undang-undang, semuanya disyariatkan oleh Allah dalam rangka membentuk jiwa pengabdian manusia agar mereka senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Baqarah ayat 21:
 يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة:٢١)

Artinya: "Wahai manusia, mengabdilah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu senantiasa bertaqwa.”(Al-Baqarah: 21).

Dalam aspek keimanan, manusia bertaqwa adalah orang yang yakin akan kebenaran Islam, bahwa Islam adalah satu-satunya sistem yang mampu menjadi solusi bagi segala permasalahan kehidupan, karena ajaran ini berasal dari sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui akan segala rahasia dan hajat yang dibutuhkan oleh manusia[3] dan Maha Mengatur serta Memelihara segala permasalahan makhluk-Nya.
Di bidang sosial, manusia bertaqwa adalah orang yang memiliki kepedulian yang tinggi kepada lingkungannya, baik sosial maupun alam. Sekalipun ia sangat sayang kepada hartanya tetapi ia tetap peduli untuk membantu sesamanya yang membutuhkan. Pada aspek ibadah mahdhah, orang yang bertaqwa selalu konsisten dalam mengerjakan shalat serta memiliki integritas kepribadian yang tinggi, teguh dalam menunaikan amanat dan janjinya, sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan rintangan di jalan perjuangan.
Salah satu bukti ketaqwaan haruslah diimplementasikan dalam bentuk penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan Ilahi. Karena hanya dengan ketegasan hukum di semua level masyarakat dan pelaksanaannya yang tanpa pandang bulu, akan terjamin keamanan, ketenangan dan kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara adil, sejahtera dan aman sentausa. Dengan demikian, kehidupan beragama dan ketaqwaan masyarakat menjadi terjamin dan berkembang secara baik.

B. Asbabun Nuzul
Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus di imani dan aplikasikan dalam kehidupan umat islam agar memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya. Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Upaya itu telah umat islam laksanakan sejak Nabi Muhammad Saw masih berada di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah hingga saat ini. Dengan kata lain upaya tersebut telah umat islam  laksanakan sejak al-Qur’an diturunkan hingga saat ini. Mengenai mengerti asbabun nuzul sangat banyak manfaatnya. Karena itu tidak benar orang-orang mengatakan, bahwa mempelajari dan memahami sebab-sebab turun al-Qur’an itu tidak berguna, dengan alasan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an itu telah masuk dalam ruang lingkup sejarah. Di antara manfaatnya yang praktis ialah menghilangkan kesulitan dalam memberikan arti  ayat-ayat al-Qur’an.
Imam al-Wahidi menyatakan: tidak mungkin orang mengerti tafsir suatu ayat, kalau tidak mengetahui ceritera yang berhubungan dengan ayat-ayat itu, tegasnya untuk mengetahui tafsir yang terkandung dalam ayat itu harus mengetahui sebab-sebab ayat itu diturunkan.[4]
Ulama salaf tatkala terbentur kesulitan dalam memahami ayat, mereka segera kembali berpegang pedoman asbabun nuzulnya. Dengan cara ini hilanglah semua kesulitan yang mereka hadapi dalam mempelajari al-Qur’an tentang “Asbabun Nuzul”.
a.      Asbabul Nuzul surat Al-Baqarah Ayat 177

Semenjak Allah memerintahkan berpindah kiblat dalam shalat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka'bah di Mekkah al-mukarramah, terjadilah pertengkaran dan perdebatan terus-menerus antara ahli kitab dan orang-orang Islam. Pertengkaran itu semakin sengit dan memuncak, sampai-sampai para ahli kitab mengatakan bahwa orang yang shalat dengan tidak menghadap ke Baitulmaqdis tidak sah dan tidak akan diterima Allah, dan orang itu tidak termasuk pengikut para Nabi. Sedang dari pihak orang Islam mengatakan pula bahwa shalat yang akan diterima Allah ialah dengan menghadap ke Masjidil haram, kiblat Nabi Ibrahim as. sebagai bapak dari segala Nabi.[5]
Menurut riwayat Ar-Rabi dan Qatadah sebab turunnya ayat ini ialah bahwa orang-orang Yahudi sembahyang menghadap ke arah barat, sedang orang Nasrani menghadap ke arah Timur. Masing-masing golongan mengatakan golongannya-lah yang benar dan oleh karenanya golongan yang berbakti dan berbuat kebajikan. Sedangkan golongan lain salah dan tidak dianggapnya berbakti dan berbuat kebajikan, maka turunlah ayat ini untuk membantu pendapat dan persangkaan mereka.[6]
Riwayat lain, juga ada yang memberi pendapat mengenai turunnya ayat ini yang tidak sama dengan yang disebutkan di atas, akan tetapi bila diperhatikan urutan ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 174, 175 dan 176, maka yang paling sesuai adalah bahwa ayat ini diturunkan Allah terhadap ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), karena pembicaraan masih berkisar di sekitar mencerca dan membantah perbuatan dan tingkah laku mereka yang tidak baik dan tidak wajar. Ayat ini juga bukan saja ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani semata, tetapi mencakup juga semu umat vang menganut agama-agama yang diturunkan dari langit, termasuk umat Islam.[7]

C. Pokok Kandungan Ayat

Dalam ayat 177 surat al-baqarah terkandung beberapa ajaran pokok yang sangat esensial bagi kaum muslim, dimana dalam ayat tersebut Allah Swt menegaskan tentang keimanan, yang mana keimanan itu bukanlah dengan menghdapkan wajah kesalah satu arah, namun dalam ayat tersebut Allah mengatakan keiman itu yaitu mengesakan-Nya dimana pun kita berada.
Dalam ayat tersebut Allah juga menegaskan tentang ibadah, dimana didalam ayat tersebut  Allah menyuruh umat islam untuk melaksanakan shalat sebagaimana yang telah rasul ajarkan, karena apabila tidak seperti yang diajarkan rasul maka shalat tersebut akan sia-sia. Yaitu harus memenuhi syarat serta menghadap kiblat.[8]
Rasa sosial merupakan salah satu yang sangat di perhatikan dalam ajaran agama islam, kita bisa melihat bagaiman islam berbicara mengenai orang-orang yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya, orang-orang kehabisan bekal dalam perjalanan serta orang-orang yang tidak sanggup untuk memerdekakan dirinya. Dimana Allah menyuruh orang-orang yang punya kemampuan untuk menolong mereka.
Sabar dalam menjalankan perintah Allah serta atas cobaan yang diberikan Allah merupakan suatu hal yang mulia, diamana agama islam merupakan agama yang sangat memperhatikan akhlak umatnya, karena kesabaran dalam menjalankan perintah Allah merupakan suatu akhalk yang diajarkan dalam islam.

D. Penafsiran Ayat Menurut Para Ahli

Bunyi surat al-baqarah ayat 177 adalah sebagai berikut:

ليس البر ان تو لوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من امن با لله واليوم ا لا خروالملئكة والكتاب والنبين واتى المال على حبه دوى القربى واليتا مى والمسا كين وابن السبيل والسا ئلين وفى الرقاب واقام الصلوة واتى الر كوة والمو فون بعدهم اذعا هدوا والصابر ين فى البأساء والضراءوحين الباس, او لئك الذين صدقوا واولئك هم المتقون (البقرة :١٧٧)

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah tumur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anan-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah: 177).

Maksud ayat ini ialah setelah Allah menyuruh kaum mukmin menghadap ke Baitul Al-maqdis, Allah mengalihkan kiblat mereka ke Ka'bah, maka hal itu membuat ragu segolongan Ahli kitab dan sebagian kaum muslim. Lalu Allah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang hikimah pengalihan itu. Tujuan pengalihan itu ialah untuk melihat siapa yang taat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya, menghadap kemana pun mereka disuruh, dan mengikuti apa yang disyariatkan-Nya. Hal ini merupakan kebajikan, ketaqwaan, dan ke­imanan yang sempurna.
Menghadap ke arah timur atau barat tidak mengandung kebajikan dan ketaatan jika tidak bersumber dari perintah dan syariat Allah. Oleh karena itu, Dia berfirman, "Kebajikan itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, namun kebajikan itu ialah dengan beriman kepada Allah, hari akhir." Berkaitan dengan firman Allah, "Namun kebajikan itu ialah dengan beriman kepada Allah", ats-Tsauri berkata, "Yang dimaksud adalah seluruh jenis kebajikan." Imam ats-Tsauri, rahimahullah, benar karena orang yang memiliki sifat yang dikemukakan oleh ayat ini, berarti ia telah masuk ke dalam seluruh wilayah Islam dan telah mengambil seluruh kebaikan, yakni beriman kepada Allah bahwa tiada tuhan melainkan Dia serta membenarkan adanya para malaikat yang merupakan duta antara Allah dengan para rasul-Nya.[9]
Beriman kepada "kitab". Al-kitab merupakan isim jinis yang meliputi kitab-­kitab yang diturunkan dari langit kepada para nabi. Kitab penutup dan yang paling mulia ialah Al-Qur'an, yang menjadi muara kebaikan dunia dan akhirat. Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dinasakh oleh Al-Qur'an.
Selain itu, dia beriman kepada seluruh nabi Allah mulai dari nabi pertama sampai yang terakhrir, yaitu Muhammad saw. Firman Allah: "Dengan memberikan harta yang dicintainya," maksudnya dia mengeluarkan harta padahal ia mencintai dan menyenanginya sebagaimana hal itu ditetapkan dalam hadits yang  terdapat dalain shahihin, yaitu hadits marfu' dari Abu Hurairah, "Sedekah yang paling utama ialah hendalaknya kamu bersedekah sedangkan engkau masih sehat, tidak ingin memberi, mendambakan kekayaan, dan mengkhawatirkan kemiskinan."[10] Allah Ta'ala berfirman, "Dan mereka memberi makanan yang, dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan." Allah Ta'ala ber­firman, "Sekali-kali kamu tidak akan meraih kebaikan hingga kamu menginfahkan sebagian harta yang kamu sukai." Dan firman Allah, "Dan mereka mementingkan orang lain dari pada dirinya, walaupun mereka sendiri kesusahan. ­Inilah pola hidup lainnya yang sangat tinggi, yaitu mereka lebih mengutamakan pemberian sesuatu yang justru sangat diperlukan dirinya. Mereka memberi dan ­menyedekahkan sesuatu yang dicintainya.
a.      Abu Bakar jabir Al-Jazairi

Menurut Abu Bakar Jabir AI-Jazairi, semenjak Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk berpindah kiblat dalam shalat dari Baitulmaqdis di Palestina ke Ka'bah di Mekkah almukarramah, terjadaah pertengkaran dan perdebatan terus­menerus antara Ahli Kitab dan orang-orang Islam. Pertengkaran itu semakin sengit dan memuncak, sampai-sampai orang-orang Ahli Kitab mengatakan, bahwa orang yang shalat dengan tidak menghadap ke baitulmaqdis tidak sah shalatnya dan tidak akan diterima Allah dan orang itu tidak termasuk pengikut para Nabi-nabi. Sedang dari pihak orang Islam mengatakan pula, bahwa shalat yang akan diterima Allah ialah dengan menghadap ke Masjidilharam. kiblat nabi Ibrahim as. sebagai bapak dari segala Nabi.[11]
Ayat ini menegaskan bahwa yang pokok bukanlah menghadapkan muka ke kiblat dan menghadapkan muka itu bukanlah suatu kebaktian yang dimaksud dalam agama. Sebab kiblat itu hanyalah merupakan suatu tanda dan merupakan syi'ar untuk kesatuan umat guna mencapai maksud yang satu dalam mengabdikan diri kepada Allah Yang Maha Esa. Dengan demikian, dapatlah umat membiasakan diri untuk menjaga persatuan dalam segala urusan dan perjuangan.
Menurut riwayat Ar Rabi' dan Qatadah, sebab turunnya ayat ini ialah bahwa orang-orang Yahudi sembahyang menghadap ke arah barat, sedang orang-orang Nasrani menghadap ke arah Timur. Masing-masing golongan mengatakan bahwa, golongannyalah yang benar dan oleh karenanya golongannyalah yang berbakti dan berhuat kebajikan, Sedangkan golongan lain salah dan tidak dianggapnya berbakti atau berbuat kebajikan, maka turunlah ayat ini untuk membantah pendapat dan persangkaan mereka. Ayat ini bukan saja ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup juga semua umat yang menganut agama-agama yang diturunkan dari langit, termasuk umat Islam.
Pada ayat 177 ini Allah juga mcnjelaskan kepada semua umat manusia, bahwa kebaktian itu bukanlah sekedar menghadapkan muka kepada suatu arah yang tertentu. baik ke arah timur maupun ke arah barat, tetapi kebaktian yang sebenarnya adalah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, iman yang bersemayam di lubuk hati yang dapat menenteramkan jiwa, yang dapat menunjukkan kebenaran dan mencegah diri dari segala macam dorongan hawa nafsu dan kejahatan. Beriman kepada hari akhirat sebagai tujuan terakhir dari kehidupan dunia yang serba kurang dan fana ini.
Beriman kepada malaikat yang di antara tugasnya menjadi perantara serta pembawa wahyu dari Allah kepada para nabi dan rasul. Beriman kepada semua kitab-kitab yang diturunkan Allah, baik Taurat, Injil maupun Al Qur'an. Jangan seperti Ahli Kitab yang percaya pada sebagian kitab yang diturunkan Allah, tetapi tidak percaya kepada sebagian lainnya atau percaya kepada sebagian ayat-ayat yang mereka sukai, tetapi tidak percaya kepada ayat-ayat yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Beriman  kepada semua nabi tanpa tanpa membedakan antara seorang nabi dengan nabi yang lain.
b.      Ahmad Mustafa Al-Maragi
Menurut Ahmad Mustafa Al-Maraghi ketika Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memindahkan kiblat dari baitulmaqdis ke Ka'bah, orang-orang ahli kitab menentang perintah tersebut. Akhirnya terjadilah perdebatan sengit antara kaum Muslimin dengan ahli kitab,  para ahli kitab berpendapat bahwa shalat yang dilakukan dengan tidak menghadap kiblat adalah tertolak di hadapan Allah dan orang yang melakukannya tidak mengikuti petunjuk para nabi. Sebaliknya, kaum muslimin mengatakan bahwa shalat yang mendapat ridha Allah adalah menghadap Masjidil haram, yaitu Kiblat Nahi Ibrahim dan para Nahi sesudahnya.[12]
Memperhatikan permasalahan tersebut, Allah menjelaskan bahwa menghadap kiblat secara tertentu itu bukan merupakan kebajikan yang dimaksud agama. Sebab, yang disyari'atkan untuk menghadap kiblat itu hanya untuk mengingatkan orang yang sedang menjalankan shalat bahwa dirinva dalam keadaan menghadap Sang Pencipta. Di samping itu, berarti ia sedang meminta kepada Allah Swt, untuk berpaling dari selain Allah, agar dijadikan sebagai lambang persatuan unit yang mempunyai tujuan satu. Dengan demikian, ajaran ini mendidik umat Islam untuk terhiasa mengambil kesepakatan dalam seluruh urusan mereka. hersatu dan melangkah secara bersama-sama menuju cita-cita.
Menghadap ke Timur atau ke barat tersebut tidak mengandung unsur kebajikan. pekerjaan itu, pada hakikatnya tidak merupakan suatu kebajikan. Tetapi yang dinamakan kebajikan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dan tingkah laku yang mencerminkan keimanan tersebut.
Iman kepada Allah adalah dasar semua kebajikan dan kenyataan ini takkan pernah terbukti melainkan jika iman tersebut telah meresap ke dalam jiwa dan merayap ke seluruh pembuluh nadi yang disertai dengan sikap khusyuk, tenang, taat, patuh dan hatinya tidak akan meledak-ledak jika mendapatkan kenikmatan dan tak berputus asa ketika tertimpa musibah. Iman kepada Allah ini menciptakan suasana jiwa yang tidak pernah mau tunduk kepada sikap diktator para pemimpin agama (selain Islam) yang hanya menindas manusia atas nama agama dan menganggap dirinya sebagai perantara manusia dengan Tuhan.
Iman kepada hari akhir mengingatkan kepada manusia bahwa ternyata terdapat alam lain yang gaib, kelak di akhirat hendaklah usahanya itu jangan dipusatkan untuk memenuhi kepentingan jasmani atau cita-cita meraih kelezatan dunia saja. Beriman kepada para malaikat adalah titik tolak iman kepada wahyu, kenabian dan hari akhir. Siapa pun yang menolak keimanan terhadap malaikat, berarti mengingkari seluruhnya. Sebab, di antara malaikat tersebut ada yang bertugas sebagai penyampai wahyu kepada para nabi dan memberikan ilham mengenai persoalan agama.
c.      Hamka
Menurut hamka, Allah menurunkan surat Al-Baqarah ayat 177 yaitu untuk membantah kaum Yahudi dan Nasrani dalam pcnentuan arah kiblat, jadi tidaklah berarti di tempat yang di.jadikan kiblat itu bersemayam Allah. "Kiblat hanya sekedar penyatuan arah seluruh orang yang shalat".[13] Juga termasuk ke dalam kategori kebajikan yaitu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, para Rasul yang diutus Allah.
Untuk menegakkan solidaritas antara sesama manusia, Allah memerintahkan kepada umat Islam terutama yang memperoleh nikmat kekayaan untuk memberikannya sebagian kepada mereka yang membutuhkannya, seperti keluarga dekat, anak yatim, fakir miskin, Ibnu Sabil dan orang-orang yang meminta-minta ataupun untuk memerdekakan budak.
Di dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak akan pernah terlepas dari tuntutan tolong menolong sesama, karena manusia merupakan satuan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Jelas manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Membantu seseorang yang sangat membutuhkan bantuan kita merupakan suatu pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah, baik berupa shadaqah atau infaq. Karena Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 195:
وأنفقوا في سبيل الله ولاتلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين ( البقرة : ١٩٥)
Artinya:  Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah rnenyukai orang-orang yang berbuat baik". (Q.S. AI-Baqarah: 195).

Infaq dalam kehidupan manusia dapat mendidik umat dengan didikan akhlak agama yang tinggi, membawa manusia kepada kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat kelak serta menciptakan kekuatan bagi manusia dalam kehidupan. Dengan infaq juga dapat diharapkan lenyapnya sifat kikir dan terlalu mencintai harta. Orang-­orang yang beriman tidak segan-segan mengeluarkan hartanya di jalan Allah, karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dengan demikian infaq menghapus sifat kikir serta memberantas kemiskinan dalam masyarakat serta menumbuh kembangkan sikap dermawan serta sifat tolong-mcnolong sesama manusia selaku makhluk sosial, apalagi yang diberikan kepada lembaga-lembaga pendidikan.
Dalam ayat tersebut juga mengandung nilai pendidikan ibadah, di mana Allah mewajibkan kepada orang yang telah beriman untuk mendirikan shalat dan membayarkan zakat. Hal ini menunjukkan harus adanya hubungan dengan Allah juga dengan manusia. Dengan kata lain manusia itu adalah sekelompok makhluk yang membutuhkan pertolongan orang lain yaitu mempunyai hubungan yang vertikal dan hubungan yang horizontal. Di dalam menjalankan roda kehidupannya manusia selalu berinteraksi sesamanya. Dalam berinteraksi manusia  tidak pernah luput dari janji-janji dan beraqad sesuatu, maka Allah menyuruh kepada manusia untuk menepati janji yang telah diikrarkan tersebut. Karena apabila manusia telah mampu melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah, maka manusia tersebut termasuk dalam kategori orang yang benar imannya dan termasuk juga ke dalam kategori orang yang bertaqwa.[14]
d.      M. Quraish Shihab
Menurut M. Quraish Shihab, maksud ayat bukanlah menghadapkan wajah kearah timur dan barat itu suatu kebajikan, yaitu kebajikan atau ketaatan yang mengantar kepada kedekatan kepada Allah bukanlah dalam menghadapkan wa.jah dalam shalat ke arah timur dan barat tanpa makna, tetapi kebajikan yang seharusnya mendapat perhatian semua pihak adalah yang mengantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu keimanan kepada Allah dan lain-lain yang disebut dalam ayat ini.[15]
Redaksi ayat di atas dapat juga bermakna, bukannya menghadapkan wajah ke arah timur dan barat yang merupakan semua kebajikan atau bukannya semua kebajikan merupakan sikap menghadapkan wajah ke timur dan barat, menghadap ke timur atau ke barat bukan sesuatu yang sulit atau membutahkan perjuangan, tetapi ada tuntunan lain yang membutuhkan perjuangan dan di sanalah kebajikan sejati ditemukan.
Ayat tersebut ditujukan kepada Ahli Kitab, karena mereka Bukan saja berkeras untuk tetap menghadap ke Al-Quds Yerusalem di mana terdapat dinding ratap, tetapi juga tidak henti-hentinya mengecam dan mencemoohkan kaum muslimin yang beralih kiblat ke Mekkah. Ayat ini seakan-akan berkata kepada mereka bahwa, "Bukan demikian yang dinamai kebajikan". Hubungan ayat yang dikemukakan di atas mengisyaratkan pandangan ini. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada kaum muslimin, ketika mereka menduga bahwa mereka telah meraih harapan mereka dengan beralihnya kiblat ke Mekkah.
selain itu ada yang menduga bahwa kehahagiaan telah diperoleh hanya dengan sekedar shalat menghadapkan wajah ke arah yang ditetapkan Allah yaitu Ka'bah. Apakah posisinya ketika itu menjadikan Ka'bah berada di sebelah barat atau timur, tergantung posisi masing-masing. Bukan hanya itu maknanya, bisa jadi ayat ini bahkan bermakna, "Keajikan Bukan itu, jika shalat yang dilaksanakan hanya terbatas pada menghadapkan wajah tanpa makna dan kehadiran kalbu.
Namun demikian, pendapat yang lebih baik adalah yang memahami  redaksi ayat tersebut ditujukan kepada semua pemeluk agama, karena tujuannya adalah menggaris bawahi kekeliruan yang banyak terjadi di antara mereka yang hanya mengandalkan shalat atau sembahyang saja. Ayat ini bemaksud menegaskan bahwa yang demikian itu bukan kebajikan yang sempurna atau Bukan satu-satunya kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan sempurna itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dengan sebenar-benarnya iman, sehingga meresap ke dalam jiwa dan membuahkan amal-amal saleh, juga percaya kepada para malaikat sebagai makhluk-makhluk yang ditugaskan Allah dengan aneka tugas dan sangat taat serta tidak sedikit pun membangkang perintah-Nya. Selain itu, juga percaya kepada kitab-kitab suci yang diturunkan, khususnya Al-Qur'an, Injil, Taurat dan Zabur yang disampaikan melalui para malaikat dan diterima para nabi, juga percaya kepada seluruh nabi-nabi, yang merupakan manusia-manusia pilihan Allah yang diberi wahyu untuk membimbing manusia ke arah kebenaran.
e.      Syekh M. Mutawalli Sya'rawi
Menurut M.Mutawalli Sya'rawi, ketika Allah memerintahkan perubahan arah kiblat ke Ka'bah setelah sebelumnya mereka menghadap Baitulmaqdis, maka pada saat itu terjadilah keributan dan perselisihan yang dihembuskan oleh para ahli kitab.[16] Sebagaimana diketahui bahwa setiap pengikut agama memiliki kiblat yang khusus, umat muslim menghadap Ka'bah, umat Yahudi menghadap ke Baitulmaqdis dan umat Kristen menghadap ke arah Timur. Pada ayat ini dijelaskan bahwa perbedaan kiblat itu bukanlah masalah, karena sebelum perubahan kiblat itu diperintahkan, umat muslim tetap shalat dengan menghadap ke suatu arah.
Untuk itu Allah menegaskan bahwa, "Janganlah kalian menjadikan perubahan arah Ka'bah sebagai bentuk kebajikan, karena hal itu bukanlah masalah yang susah". Namun kebajikan sebenarnya adalah melaksanakan perintah Allah yang terbentuk dari keimanan dan ketaqwaan.
Kata al-bir itu maknanya luas, selama maknanya luas maka yang membatasinya adalah pengorbanan. Maksud al-bir atau kebajikan adalah setiap gerakan yang mengandung pengorbanan. Dengan demikian, setiap hal yang dianggap remeh dalam agama tidak dikatakan al-bir, untuk itu jangan berselisih dalam masalah yang remeh sehingga tidak ada sedikit pun kesusahan, seperti masalah perubahan arah kiblat. Jika kamu meyakini bahwasannya menghadap kiblat merupakan puncak kebaikan, Kami katakan: Hal itu tidak benar, karena kebaikan yang hakiki ialah melaksanakan tanggung jawab secara utuh dan berdasarkan pada keimanan yang tangguh.
Allah menginginkan agar mukmin menerima ketaatan walaupun berat dan melarang mereka melakukan maksiat meskipun di sana ada kesenangan Semuanya itu adalah tuntutan agama untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat. Maka jangan jadikan masalah menghadap kiblat (ke Ka'bah atau ke Baitilmaqdis juga ke arah Timur) sebagai titik perpecahan umat beragama, karena semua akan menghadap ke suatu arah ketika beribadah sekali pun tidak diperintahkan tapi diharapkan agar mereka berpacu dalam berbuat baik.
f. Sayyid Quthb
Menurut Sayyid Qutbh, ayat di atas berhubungan dengan masalah pemindahan arah kiblat beserta reaksi kaum Ahli Kitab seputar masalah hikmah pemindahan kiblat dan sekitar tipu daya serta fitnah kaum Yahudi dalam masalah syiar dan ibadah umat Islam.[17]
Sesungguhnya yang menjadi tujuan bukanlah sekadar pemindahan kiblat dan simbol-simbol ibadah dengan mengarahkan wajah ke barat atau ke timur, yaitu dengan menghadap ke baitulmuqaddas atau ke Masjidilharam, juga bukan syiar­-syiar yang tampak secara lahir itu saja puncak kebajikan secara total. Semua itu-­tanpa disertai perasaan dalam hati dan aplikasi dalam kehidupan serta perilaku belum merealisasikan al-bir (kebajikan) dan belum menumbuhkan kebaikan. Sesungguhnya kebajikan itu adalah tashawwur (persepsi, pandangan hidup, perasaan, amalan dan perilaku).
Tashawwur yang mempengaruhi hati perorangan dan jamaah, amalan yang membekas dalam kehidupan pribadi dan masyarakat dan tidak cukup hanya menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, kiblat ini atau kiblat itu atau hanya salam ke kanan dan ke kiri dalam shalat, atau semua gerakan lahiriah manusia yang biasa dilakukannya. "Tetapi, sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikal, kitab-kilah, dan nabi-nabi". ltulah AI-bir (kebajikan) yang merupakan himpunan Al-khair (kebaikan).
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Surat Al-baqarah ayat 177 yaitu nilai iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab dan nabi-nabi Allah, sehingga menjadi ukuran dalam timbangan Allah dan kehidupan umat manusia dari segala macam ibadah (penyembahan) kepada bermacam-macam kekuatan, segala sesuatu dan segala simbol. Untuk beribadah hanya kepada Allah saja, yang menjadikan jiwa merdeka dari segala bentuk peribadatan dan pengabdian serta mengangkat derajatnya sama tinggi dengan jiwa-jiwa lain dalam satu barisan di hadapan Allah Al-Ma'bud Yang Maha Esa, kemudian mengangkat derajatnya melebihi segala sesuatu yang lain. "Iman kepada Allah juga merupakan titik perubahan dari kekacauan kepada keteraturan, dari kebingungan kepada tujuan yang pasti, dan dari ketercerai-beraian kepada kesatuan arah. Tanpa iman kepada Allah, manusia tidak akan mengetahui tujuan yang lurus dan titik sentral tempat mereka bersatu dalam kesungguhan dan kesamaan, sebagaimana bersatu dan berhimpunnya seluruh wujud, yang jelas nasab, ikatan, tujuan dan hubungannya.
"Iman kepada hari akhir" adalah percaya kepada keadilan Tuhan yang mutlak dalam segala pembalasan-Nya dan bahwa hidup ini bukanlah suatu kesia­siaan belaka dan kebaikan tentu akan mendapatkan balasannya. tidak hilang sia-sia. Semua itu berjalan atas garis peraturan dan neraca yang adil dari Allah. "Iman kepada malaikat " adalah sebagian dari iman kepada yang gaib, yang manusia tidak bisa mengindranya Karena, manusia itu terbatas pengetahuannya atau tidak mengetahui sesuatu di luar pengindraannya. "lman kepada kilab dan nabi-nabi utusan Allah" adalah percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi-nabi Allah seluruhnya, yang juga berarti percaya kepada kesatuan manusia, keesaan Tuhan, kesatuan agama dan kesatuan manhaj Ilahi. Perasaan seperti mempunyai nilai tersendiri dalam perasaan seorang mukmin sebagai pewaris peninggalan para rasul dan risalahnya.[18]
"Mendermakan harta" yang dicintai dan dibangga-banggakannya  kepada kaum kerabat, anak yatim, fakir miskin, para musafir dan peminta-minta serta kesediaannya membebaskan hamba sahaya. Nilainya adalah bebas dari sifat loba, kikir dan nafsu mementingkan diri sendiri. Melepaskan jiwa dari kungkungan harta dunia. Inilah nilai ruhiyyah (rohani) yang telah diisyaratkan oleh ayat ini dan nilai syu’utiyyah (perasaan) akan menjadikan tangannya terbuka untuk mendermakan harta yang dicintainya, bukan dari hartanya yang murah atau buruk.
"Pemberian bantuan kepada fakir miskin", yang bermakna, tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menafkahi diri mereka, sedangkan mereka memelihara dan menjaga diri mereka dari meminta-minta atau cara lain yang bisa menghilangkan kemuliaan mereka, maka mereka ini merupakan tanggungan umat Islam yang harus selalu diperhatikan dan sebagai umat Islam tidak oleh mengabaikan mereka.
"Zakat" merupakan pajak yang dipungut dalam masyarakat Islam yang telah diwajihkan Allah untuk dikeluarkan  dari pada harta para orang kaya dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditentukan dalam Islam. harta tersebut dipungut untuk diberikan kepada fakir miskin. Dengan adanya pernyataan pemberian zakat kepada orang-orang sebagaimana yang disebutkan di atas, membuktikan bahwa pemberian zakat dan penginfakan harta itu berbeda, antara keduanya tidak boleh dicampuradukkan. Sebab, zakat adalah kewajiban, sedangkan infak adalah aktivitas yang sifatnya mandub (anjuran).
Nilai "menepati janji" merupakan lambang Islam yang utama, yang berulang-ulang disebutkan dalam Al-Qur'an, bahkan hal ini termasuk salah satu tanda keimanan dan kebaikan yang utama, juga menjadi keharusan untuk mewujudkan ketenteraman dan kepercayaan dalam pergaulan hidup dan hubungan perorangan, hubungan jasmaniah dan hubungan rakyat dengan negara. Dalam hal menepati janji, Islam telah memegang peranan yang utama dan telah mencapai puncak ketinggiannya, baik terhadap kawan maupun lawannya.
"Sabar" dalam penderitaan dan kesulitan serta ketika di medan jihad, nilainya adalah gemblengan untuk menyiapkan jiwa yang kuat agar tidak mudah dihanyutkan oleh suatu kesukaran atau kepahitan hidup, sehingga tidak akan lemah oleh penderitaan. Hal ini menandakan keberanian, kekuatan dan ketabahan menanti saat hilangnya kesukaran dan suasana gelap yang mengurung dan mewujudkan harapan penuh kepada Allah Swt. yang akan memberikan kemudahan setelah kesulitan, serta ikhlas kepada Allah dan yakin atas kekuasaan-Nya.









[1]Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal, 751.
[2]Muhammad Syadid, Konsep Pendidikan Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Penebar Salam, 2001), hal. 87.
[3]Ibid, hal 106.
[4]Ibnu Kasir, Tafsi Ibnu Kasir, Jilid I, (Surabaya: Bina Ilmu, 2004), hal 127.
[5]Imam al Hafizh 'Imaduddin Abul Fida' Isma'il bin, Tafsir Al Mulk, Terj,Sabiq Abu Yusuf, (Jakarta: Media Tarbiyah,2007), hal.67.
[6]Ibid, hal. 98.
[7]Bachtiar Surien, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid I (Jakarta: Universitas Islam Indonesia, 2002), hal. 291
[8]Fauzi Saleh, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005), hal. 72.
[9]Ibnu Kasir, Tafsi Ibnu Kasir, Jilid I,…hal 132.
[10]Syukur Fatah, Manajemen Pendidikan, (Semarang: Fakultas Tarbiyah, 2006), hal. 108
[11] Abu Bakar Jabir A1-Jazairi, Tafsir Al-Aisar (Jakarta: Darus sunah, 2006), hal. 291
[12]Ahmad Mustafa AI-Maragi. Tafsir Al-Maraghi, Juz 1 (Semarang: Toha Putra, 2002), hal. 93.
[13]Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz II (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 2002), hal. 66.
[14]Ibid, hal. 68.
 [15]M. Quraish Shihab, Tqfsir AI-misbah, (Jakarta: Lentera Hati. 2000). hal. 365.
[16]Syekh M. Mutawalli Sya’rawi, Tafsir sya’rawi, Juz I (Jakarta: Duta Azhar, 2004), hal. 533
[17]Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Jilid 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 189
[18]Ibid, hal. 193.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar